Radargempita.co id
Pojok Berita, — Generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia di tengah meningkatnya ancaman kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Melalui edukasi, aksi konservasi, hingga kampanye digital, anak muda dinilai mampu menjadi motor penggerak pelestarian alam di masa depan.

Hal itu disampaikan dalam Workshop Indonesia Nature Positive: Sesi Inspirasi Keanekaragaman Hayati dan Generasi Muda yang digelar di Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia dikutip dari National Geographic, (22/05).
Senada, Managing Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin, mengatakan banyak tokoh naturalis dunia memulai penjelajahan dan penelitian lingkungan sejak usia muda.
“Para naturalis yang datang ke Nusantara pada masa lalu juga masih berusia 20-an tahun. Itu relevan dengan kondisi generasi muda saat ini,” ujar Yoan mengiayakan.

Foto: Managing Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin, bercerita soal Rumphius dan para naturalis lainnya yang menjelajahi Indonesia sejak usia muda.
Lebih lanjut ia mencontohkan sejumlah tokoh dunia seperti Georg Eberhard Rumphius yang datang ke Ambon pada usia 25 tahun dan menghasilkan karya penting tentang flora serta kekayaan alam Maluku.
Selain itu, Yoan juga menyinggung Raden Saleh yang sebelum berangkat ke Eropa sempat bekerja sebagai pelukis botani di Kebun Raya Bogor. Nama lain yang disebut yakni Franz Wilhelm Junghuhn dan Alfred Russel Wallace yang dikenal aktif mengeksplorasi kekayaan alam Nusantara sejak usia muda.
Menurut Yoan, Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang terlibat sebagai ilmuwan warga, jurnalis lingkungan, pegiat konservasi, hingga filantropi lingkungan.
“Apakah generasi hari ini mampu menjadi penjelajah baru biodiversitas negeri sendiri? Itu menjadi tantangan bersama,” katanya.
Sementara itu, Juru Kampanye Hutan Senior Greenpeace Indonesia, Syahrul Fitra, menegaskan pentingnya dukungan terhadap masyarakat adat dalam menjaga ekosistem alami Indonesia.
Menurut Syahrul, berbagai penelitian menunjukkan sekitar 30 persen ekosistem alami dunia berada di wilayah masyarakat adat. Karena itu, masyarakat adat dinilai sebagai aktor utama dalam upaya perlindungan lingkungan.
“Masyarakat adat memiliki kearifan lokal menjaga alam selama ratusan tahun. Ketika membahas solusi lingkungan, masyarakat adat harus dilibatkan,” ujarnya.

Foto: Anak-anak muda bisa berkontribusi melestarikan keankeragaman hayati lewat penanaman mangrove di pesisir hingga bersuara di media sosial.
Ia juga menilai generasi muda memiliki kekuatan besar dalam mendorong perubahan sosial dan lingkungan, terutama karena akses informasi yang semakin terbuka di era digital.
Syahrul mencontohkan aksi protes anak muda terhadap aktivitas pertambangan nikel di pulau-pulau kecil Raja Ampat yang akhirnya mendorong pencabutan sejumlah izin tambang.
Ketua Umum Lawalata IPB, Shafia Rahma Hapsari, mengatakan kepedulian anak muda terhadap lingkungan dapat tumbuh dari tren media sosial.
Menurutnya, fenomena fear of missing out (FOMO) dapat diarahkan menjadi hal positif dengan mempopulerkan aktivitas pelestarian lingkungan sebagai tren baru di kalangan anak muda.
“Kalau konten tentang aksi lingkungan menjadi viral, itu bisa menggerakkan lebih banyak anak muda untuk ikut terlibat,” kata Shafia.
Ia mencontohkan gerakan penanaman mangrove yang dilakukan Lawalata IPB berhasil menginspirasi komunitas pencinta alam lain untuk melakukan kegiatan serupa.
Shafia berharap tren media sosial tidak hanya berisi aktivitas hiburan semata, tetapi juga mampu mendorong gerakan nyata untuk menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia.
(Lie)












