Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Breaking News

Pejabat Negara, Hidup Tanpa Kemewahan?

badge-check


					Pejabat Negara, Hidup Tanpa Kemewahan? Perbesar

Radargempita.co.id

Pojok Berita, – Di tengah sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, nama Syafruddin Prawiranegara dikenal sebagai salah satu tokoh bangsa yang memiliki rekam jejak panjang dalam pemerintahan dan ekonomi negara. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Wakil Perdana Menteri, serta memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) selama sekitar 207 hari setelah agresi militer Belanda ke Yogyakarta pada 1948. Kepemimpinan PDRI dinilai berperan penting dalam menjaga keberlangsungan Republik Indonesia di mata dunia ketika pemerintah pusat tidak dapat menjalankan fungsinya.

Di balik kiprahnya sebagai pejabat negara, Syafruddin dikenal menjalani kehidupan yang sederhana. Berbagai kisah yang dituturkan keluarga menggambarkan bahwa ia memegang teguh prinsip untuk tidak menggunakan uang negara demi kepentingan pribadi, sekalipun keluarganya menghadapi keterbatasan ekonomi.

Salah satu kisah yang kerap diceritakan berasal dari sang istri, Tengku Halimah atau Lily. Kepada anak sulungnya, ia pernah mengatakan bahwa ayah mereka mengelola keuangan negara, tetapi tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan bagi adik mereka yang baru lahir. Kisah tersebut menjadi gambaran mengenai komitmen Syafruddin dalam menjaga amanah jabatan.

Saat Syafruddin memimpin PDRI di Sumatra, Lily harus membesarkan keempat anak mereka seorang diri. Menurut penuturan keluarga, untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, ia berjualan sukun goreng. Ketika anak-anaknya bertanya mengapa tidak meminta bantuan kepada para pemimpin negara, Lily menjelaskan bahwa suaminya selalu mengajarkan untuk hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain apabila masih mampu berusaha sendiri.

Ia juga menanamkan nilai bahwa bekerja keras bukanlah sesuatu yang memalukan. Sebaliknya, yang harus dihindari adalah mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak, terlebih menyalahgunakan uang negara. Nilai-nilai tersebut kemudian dikenang oleh putra bungsu mereka, Farid Prawiranegara, sebagai bagian dari teladan yang diwariskan kedua orang tuanya.

Kisah hidup Syafruddin Prawiranegara menunjukkan bahwa jabatan publik merupakan amanah yang harus dijalankan dengan integritas dan tanggung jawab. Meski tidak meninggalkan warisan berupa kekayaan, ia dikenang sebagai tokoh yang mewariskan nilai kejujuran, kesederhanaan, dan pengabdian kepada bangsa.

Keteladanan tersebut menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik dibangun bukan semata oleh kecakapan memimpin, tetapi juga oleh integritas dalam menjalankan amanah serta komitmen untuk menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.

 

(Redaksi)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemuda Bergerak, Desa Bergema! Karang Taruna Buntu Bedimbar Tunjukkan Peran Besar di Gebyar AKBAR

30 Agustus 2026 - 23:05 WIB

Spasium Ungkap Alasan Banyak Sculpture Arsitektural Gagal Diwujudkan

30 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Car Free Night Lubuk Pakam Semarak: Eksibisi Tinju Tampilkan Potensi Pemuda, Bupati Janji Sediakan Ring Resmi

30 Agustus 2026 - 12:06 WIB

Babinsa Sukabumi Selatan Koramil 05/KJ Perkuat Sinergi Security PT AMS, Dorong Warga Aktif Jaga Kamtibmas

30 Agustus 2026 - 11:02 WIB

Satgas Sampah Koramil 05/Kebon Jeruk Perkuat Penanganan Darurat Sampah di Sukabumi Selatan

30 Agustus 2026 - 10:53 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan