Radargempita.co.id
MEDAN, — Aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang digelar ratusan massa Partai Buruh bersama sejumlah elemen masyarakat berlangsung tertib dan humanis di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara.

Massa yang terdiri dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Serikat Petani Indonesia (SPI), komunitas ojek online, nelayan, mahasiswa, dan warga, memulai aksi dari Istana Maimun menuju Kantor Gubernur Sumut (Gubsu) dengan membawa sejumlah tuntutan.
Ketua Partai Buruh Sumut, Willy Agus Utomo, didampingi Sekretaris Ijon Hamonangan Tuah Purba, menyampaikan bahwa aksi tersebut memuat tuntutan di tingkat nasional maupun daerah.
“Pada momentum May Day ini, kami menyuarakan tuntutan kepada pemerintah pusat dan daerah agar lebih berpihak kepada buruh,” ujar Willy kepada wartawan, Jum’at (1/05).

Foto: Istimewa
Di tingkat nasional, massa mendesak pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan undang-undang ketenagakerjaan yang baru dan dinilai lebih pro terhadap pekerja.
Selain itu, mereka juga menuntut penghapusan sistem outsourcing serta menolak praktik upah murah.
Sementara di tingkat daerah, massa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution.
Di antaranya penyediaan perumahan layak dan terjangkau bagi buruh, penolakan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, khususnya terhadap pekerja TPL, serta penyelesaian berbagai persoalan ketenagakerjaan di wilayah tersebut.
Massa juga meminta pemerintah daerah menjalankan reforma agraria melalui pembagian sertifikat tanah bagi buruh dan petani, serta memberikan perhatian terhadap korban banjir di Kabupaten Langkat.

Foto: Istimewa
Setibanya di lokasi aksi, massa melakukan orasi secara bergantian. Sekitar 10 perwakilan demonstran kemudian diterima oleh pihak Pemerintah Provinsi Sumut untuk melakukan dialog.
Usai pertemuan, perwakilan massa menyatakan akan kembali menggelar aksi lanjutan pada Senin (4/5) apabila tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti.
Dalam kesempatan tersebut, massa turut mengapresiasi pengamanan yang dilakukan aparat kepolisian yang dinilai humanis, sehingga rangkaian aksi berlangsung aman dan kondusif.
Sebagai bentuk penghargaan, massa memberikan bunga secara simbolis kepada sejumlah polisi wanita (Polwan) yang bertugas.
Aksi May Day di Medan pun berakhir tanpa insiden berarti.
(Armend Mendrofa)











