Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Jejak Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan yang Lama Terpinggirkan

badge-check


					Jejak Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan yang Lama Terpinggirkan Perbesar

Radargempita.co.id

Jakarta,  — Peran kyai dan santri dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia kembali menjadi sorotan. Sejumlah catatan sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh pesantren memiliki kontribusi besar dalam pembentukan kekuatan militer republik pada masa awal kemerdekaan, termasuk dalam pertempuran besar di Surabaya pada November 1945.

Dalam arsip sejarah nasional tercatat, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) — cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) — dipimpin oleh sejumlah tokoh ulama di berbagai daerah. Komandan Divisi I TKR diketahui dijabat Kolonel KH Sam’un, seorang pengasuh pesantren di Banten. Sementara Divisi III dipimpin Kolonel KH Arudji Kartawinata dari Tasikmalaya.

Di tingkat resimen dan batalyon, sejumlah nama ulama juga tercatat memegang komando. Di antaranya Letnan Kolonel KH Iskandar Idris yang memimpin Resimen 17, Letnan Kolonel KH Yunus Anis di Resimen 8, hingga Mayor KH Iskandar Sulaiman yang memimpin batalyon TKR Malang dan saat itu menjabat Rais Syuriah Nahdlatul Ulama Kabupaten Malang.

Data tersebut disebut tersimpan dalam arsip Sekretariat Negara dan dokumen militer. Namun, sebagian kalangan menilai peran ulama dan santri belum banyak mendapat porsi dalam buku pelajaran sejarah nasional pada masa lalu.

Nama pendiri Nahdlatul Ulama, , misalnya, dinilai tidak banyak dibahas dalam narasi sejarah resmi, meski telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden pertama RI, .

Resolusi Jihad dan Pertempuran Surabaya

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Sebelum pecahnya pertempuran besar itu, Surabaya lebih dahulu mengalami konflik bersenjata pada 26–29 Oktober 1945.

Sejumlah sejarawan mengaitkan meningkatnya perlawanan rakyat dengan keluarnya Resolusi Jihad yang diumumkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945. Resolusi tersebut menyerukan kewajiban mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan.

Saat itu, pasukan Inggris datang ke Surabaya dengan mandat melucuti tentara Jepang pasca-Perang Dunia II. Namun situasi berkembang menjadi konflik terbuka setelah muncul kekhawatiran bahwa Belanda akan kembali membonceng Sekutu untuk menguasai Indonesia.

Ribuan warga Surabaya, termasuk kalangan santri dan pemuda, kemudian terlibat dalam perlawanan terhadap pasukan Inggris. Seruan jihad disebut menyebar melalui masjid, langgar, dan jaringan pesantren, memobilisasi massa dari berbagai daerah di Jawa Timur hingga luar daerah.

Pada 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal Inggris tewas dalam insiden di sekitar Jembatan Merah Surabaya. Peristiwa itu memicu ultimatum Inggris yang kemudian berujung pada serangan besar-besaran ke Surabaya pada 10 November 1945.

Menjelang serangan tersebut, KH Hasyim Asy’ari kembali menyerukan kewajiban mempertahankan Surabaya bagi umat Islam yang berada dalam radius tertentu dari kota itu. Seruan tersebut memicu gelombang kedatangan pejuang dari berbagai wilayah seperti Jombang, Kediri, Mojokerto, Malang, hingga Cirebon.

Warisan Sejarah yang Terus Diperdebatkan

Peran kyai, santri, dan organisasi Islam dalam perang kemerdekaan hingga kini masih menjadi bahan diskusi di kalangan akademisi dan masyarakat. Sebagian pihak menilai kontribusi mereka belum sepenuhnya mendapat ruang proporsional dalam historiografi nasional, terutama pada masa Orde Baru.

Meski demikian, berbagai dokumen sejarah menunjukkan bahwa kelompok pesantren memiliki keterlibatan nyata dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, baik melalui jalur diplomasi, fatwa keagamaan, maupun keterlibatan langsung di medan perang.

Peringatan Hari Santri setiap 22 Oktober juga menjadi momentum untuk mengingat kembali kontribusi kalangan pesantren dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia.

 

(Red)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Laga AFF U-19 di Stadion Sumut Dijeda Akibat Padam Listrik, Diduga Disebabkan Cuaca Ekstrem

5 Juni 2026 - 01:33 WIB

Pengadilan Negeri Medan Jatuhkan Vonis pada Dua Remaja Narkoba, Peran dan Pengakuan Jadi Faktor Pembeda Hukuman

5 Juni 2026 - 01:03 WIB

36 Tersangka Narkoba Diamankan Polres Labuhanbatu Selatan, Operasi Antik Sita 189,5 Gram Sabu

4 Juni 2026 - 22:13 WIB

Distribusi Logistik Kian Menguat, Kinerja KAI Logistik Bulan April Tumbuh 11%

4 Juni 2026 - 20:20 WIB

Masyarakat Kecam Persekongkolan Oknum Polisi dengan Bandar Judi, Kapolres Sumut Siapkan Tim Khusus

4 Juni 2026 - 16:06 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan