Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Home

Ekowisata Papua Barat Daya, Antara Menjaga Alam Dan Menghidupi Warga?

badge-check


					Ekowisata Papua Barat Daya, Antara Menjaga Alam Dan Menghidupi Warga? Perbesar

Radargempita.co.id

Ragam, – Provinsi Papua Barat Daya terus mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat di kawasan Bentang Laut Kepala Burung.

Melalui kolaborasi antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), pemerintah daerah, dan kelompok masyarakat adat, konsep ekowisata dikembangkan sebagai upaya menjaga kelestarian alam tanpa mengabaikan kesejahteraan warga lokal.

Inisiatif tersebut diperkuat melalui rangkaian kegiatan bertema “Ekowisata untuk Kehidupan: Dari Alam untuk Masyarakat” yang berlangsung pada 6–9 Mei 2026 di Sorong.

Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha wisata, komunitas adat, hingga asosiasi pariwisata untuk membangun model wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menegaskan bahwa kekayaan alam dan budaya Papua merupakan aset besar yang harus dijaga melalui tata kelola wisata yang tepat.

Foto: Kepala Dinas Pemuda, Olahraga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya Yusdi Lamatenggo.

“Papua Barat Daya memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, pariwisata dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan,” ujar dikutip Nationalgeographic.co.id, Jum’at (14/05).

Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat lokal menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi dari sektor wisata dapat dirasakan langsung oleh warga tanpa merusak ekosistem yang ada.

Dalam forum tersebut, berbagai isu strategis turut dibahas, mulai dari ancaman wisata massal hingga pengembangan paket wisata yang memiliki nilai edukasi dan pengalaman budaya.

Pelaku industri menilai tren wisata global kini mulai bergeser ke arah pengalaman autentik yang melibatkan interaksi langsung dengan masyarakat lokal dan alam.

Perwakilan operator wisata, Ranny Tumundo, mengatakan wisatawan modern tidak lagi sekadar mencari destinasi populer, tetapi pengalaman yang memiliki nilai emosional dan kedekatan budaya.

Foto: Proses pembuatan noken. Aktivitas ini merupakan bagian dari uji coba paket ekowisata yang dikelola Kelompok Ekowisata Gauksuak di Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong

 

Pandangan serupa disampaikan pegiat lingkungan sekaligus aktor Ramon Y. Tungka. Ia menilai kekuatan utama wisata Papua terletak pada hubungan manusia dengan alam dan tradisi lokal.

“Perjalanan yang paling berkesan bukan tentang seberapa jauh kita pergi, tetapi seberapa dalam kita terhubung,” kata Ramon.

Salah satu perhatian utama dalam kegiatan itu adalah presentasi paket wisata dari wilayah Malaumkarta dan Misool Utara.

Kelompok masyarakat adat memperlihatkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi sekaligus instrumen konservasi lingkungan.

Kelompok Joom Jak Sasi dari Kampung Aduwei, misalnya, memperkenalkan tradisi sasi, yaitu aturan adat yang membatasi pemanfaatan sumber daya alam demi menjaga keseimbangan ekosistem laut dan pesisir.

Pada kesempatan yang sama Ketua Kelompok Joom Jak Sasi, Ribka Botot, menegaskan bahwa tradisi adat memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sumber kehidupan masyarakat.

“Sasi bukan hanya aturan adat, tetapi cara kami melindungi sumber kehidupan kami. Melalui ekowisata, kami ingin menunjukkan bahwa menjaga alam juga bisa memberi penghidupan,” ujar Ribka Bobot.

Kegiatan itu juga menampilkan Tari Alen, tarian penyambutan khas Suku Moi yang menjadi bagian dari uji coba paket wisata budaya di Malaumkarta, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong.

Sementara itu, Kelompok Ekowisata Gauksuak di Distrik Makbon mulai mengembangkan wisata berbasis pengalaman masyarakat adat, seperti pengamatan burung, pengenalan pangan lokal, hingga edukasi konservasi laut.

Sejak 2024, YKAN mendampingi kelompok tersebut melalui pelatihan manajemen homestay, peningkatan kapasitas pemandu wisata, serta edukasi perlindungan ekosistem pesisir dan laut.

Ketua Kelompok Gauksuak, Lambert Mobalen, menegaskan bahwa konsep ekowisata yang mereka bangun bukan sekadar bisnis pariwisata, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan alam untuk generasi mendatang.

“Ekowisata bukan hanya tentang menerima tamu, tetapi tentang bagaimana kami menjaga laut dan tanah kami tetap hidup,” kata Lambert Mobalen.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, menjelaskan bahwa pengembangan ekowisata di Papua Barat Daya sejalan dengan prinsip ekonomi biru, yakni pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan.

“Ekowisata tidak hanya menghadirkan pengalaman wisata, tetapi juga menjadi instrumen menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” sambung Lambert Mobalen.

Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat adat, dan lembaga konservasi, Papua Barat Daya diharapkan mampu menjadi contoh pengembangan wisata yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjaga kelestarian alam dan identitas budaya lokal secara berkelanjutan.

 

(Lie)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Setdukab RI Apresiasi Inovasi Rehabilitasi BNN, Perkuat Program P4GN

14 Mei 2026 - 20:30 WIB

Latihan Satbak Tingkatkan Kesiapan Prajurit Yonarhanud 16 Kostrad

14 Mei 2026 - 20:09 WIB

Korban Penyiraman Cairan Kimia di Pacitan Dirujuk ke RS Luar Daerah

14 Mei 2026 - 19:17 WIB

Sunset di Kebun 2026 Padukan Musik, Edukasi Lingkungan, dan Konservasi Alam

14 Mei 2026 - 18:58 WIB

Kompolnas Soroti Peningkatan Pelayanan Usai Kapolda Metro Jaya Naik Pangkat Jadi Komjen

14 Mei 2026 - 18:15 WIB

Trending di Home

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan