Radargempita.co.id
Alam, – Perhelatan Sunset di Kebun 2026 kembali menghadirkan perpaduan hiburan musik dan edukasi lingkungan di kawasan Kebun Raya Bogor pada 9–10 Mei 2026. Acara yang dipersembahkan oleh PT Pegadaian melalui Tring! by Pegadaian ini mengusung tema “Music Show with Green Conservation and Culture Movement” sebagai upaya memperkuat kampanye pelestarian lingkungan di kalangan generasi muda.

Kegiatan tersebut dikembangkan oleh PT Mitra Natura Raya, bagian dari Dyandra & Co, yang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN dalam mengoptimalkan fungsi kebun raya sebagai destinasi wisata edukasi berbasis keanekaragaman hayati.
Melalui konsep festival musik bernuansa piknik di ruang terbuka, penyelenggara berupaya menghadirkan pendekatan baru dalam memperkenalkan konservasi alam kepada masyarakat. Salah satu pesan utama disampaikan lewat program plant heroes, yakni pengenalan tanaman unggulan yang diangkat setiap tahun sebagai simbol edukasi lingkungan.
Pada penyelenggaraan tahun ini, tanaman Hoya dipilih sebagai ikon utama. Indonesia diketahui menjadi salah satu pusat keanekaragaman Hoya dunia dengan berbagai spesies endemik yang tersebar dari Sumatra hingga Papua. Tanaman ini dikenal memiliki bentuk daun dan bunga menyerupai lilin, serta dinilai penting untuk upaya konservasi baik di habitat asli maupun melalui pelestarian di kebun raya.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, bibit tanaman plant heroes diberikan kepada para musisi yang tampil di atas panggung. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kedekatan publik, khususnya generasi muda, terhadap kekayaan flora Nusantara.
Managing Director PT Mitra Natura Raya, Marga Anggrianto, mengatakan festival musik dipilih sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan lingkungan kepada anak muda.

Foto: Istimewa (Fiersa Besari dalam acara Sunset di Kebun 2026).
“Festival musik itu hanya media saja, yang sangat efektif untuk anak muda dalam rangka menyampaikan pesan-pesan lingkungan yang dimiliki oleh kebun raya,” ujar Marga, kepada awak media (Kamis (14/05).
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dan BRIN guna memastikan aktivitas pariwisata kreatif tetap berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Selama dua hari penyelenggaraan, panggung Sunset di Kebun 2026 diisi sejumlah musisi lintas genre. Pada hari pertama tampil Adrian Khalif, Idgitaf, Fiersa Besari, Bernadya, serta Nathalie Ezmelarda. Sementara pada hari kedua, panggung diramaikan oleh The Adams, Tanayu, Rumah Sakit, Barasuara, .Feast, Hindia, dan Harra.
Selain pertunjukan musik, pengunjung juga diajak mengikuti berbagai aktivitas keberlanjutan seperti program Lesstari yang mendorong pengurangan sampah plastik sekali pakai selama acara berlangsung. Terdapat pula sejumlah aktivasi lain seperti Conservation, Natura, Kultura, Sunset Market, Paket Cinta, hingga Bike to Sunset yang dirancang untuk menciptakan pengalaman festival yang lebih inklusif dan ramah lingkungan.
Penyelenggara juga menggandeng komunitas lokal untuk membantu pengelolaan kebersihan dan pengurangan limbah selama acara berlangsung. Area piknik ditata agar tetap nyaman dan estetik tanpa mengabaikan aspek konservasi kawasan kebun raya.
Kesuksesan acara ini turut didukung berbagai mitra strategis, di antaranya Bank Mandiri, Kopi ABC, Chitato, Indomie, Pop Mie, serta Sambal Indofood. Dukungan juga datang dari ION Network, Yayasan Dharma Bakti Astra, Kopi Kenangan, Photoria, Tarobun, dan Amaris Hotel.
Melalui kolaborasi antara hiburan, edukasi konservasi, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, Sunset di Kebun 2026 menjadi salah satu contoh upaya pengembangan pariwisata kreatif yang tetap berpijak pada pelestarian alam dan edukasi publik.
(Red / Foto: Nationalgeographic.co.id)












