Radargempita.co.id, – Di balik riuh heroisme pertempuran Pertempuran Surabaya, tersimpan kisah kemanusiaan yang nyaris luput dari catatan sejarah. Sanusi (98), seorang veteran asal Singaraja, Bali, mengungkap bagaimana sejumput kepedulian mampu menunda kematian di tengah kepungan perang dan kelaparan.
Ingatan Sanusi melayang ke November 1945, saat dirinya bersama para pejuang lain menghadapi gempuran pasukan Sekutu di Surabaya. Namun, menurutnya, ancaman terbesar kala itu bukan semata peluru,

melainkan perut kosong akibat terputusnya jalur logistik selama pertempuran sengit berlangsung. “Musuh kami saat itu bukan hanya Sekutu, tapi juga lapar yang melilit,” ujarnya lirih.
Selama tiga hari, Sanusi dan rekan-rekannya bertahan di garis depan tanpa asupan makanan. Kondisi fisik mereka melemah drastis. Tubuh yang kelelahan dan kekurangan energi membuat senjata terasa semakin berat, sementara kesadaran perlahan memudar.
Di tengah kondisi kritis tersebut, secercah harapan datang dari arah yang tak terduga. Sejumlah relawan perempuan dari dapur umum menerobos bahaya, merayap di antara reruntuhan bangunan dan hujan peluru demi mengantarkan nasi kepada para pejuang.
Sanusi mengenang momen itu dengan penuh haru. Tangannya yang gemetar bahkan tak mampu membuka bungkusan nasi dari daun pisang. Melihat kondisi tersebut, seorang relawan perempuan dengan sigap menyuapinya.
“Dia tidak takut peluru. Sambil menyuapi, dia berkata, ‘Makan yang banyak, Mas, supaya kuat melawan penjajah’,” tutur Sanusi.
Setiap suapan nasi itu, lanjutnya, bukan sekadar mengisi perut, tetapi menjadi sumber kekuatan moral yang menghidupkan kembali semangat juang. Di tengah bau mesiu yang menyengat, kehangatan nasi dan ketulusan relawan menjadi penopang harapan untuk bertahan hidup.
Kisah ini menjadi potret nyata bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwarnai oleh strategi militer dan pertempuran bersenjata.
Ada peran penting masyarakat sipil—terutama perempuan—yang dengan keberanian dan empati mengambil risiko besar demi mendukung para pejuang.
Bagi Sanusi, kemerdekaan bukan hanya soal kemenangan di medan perang, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan yang mengikat tanpa memandang asal-usul. Sosok relawan perempuan yang tak pernah ia kenal namanya itu, menurutnya, adalah pahlawan sejati yang jasanya akan selalu ia kenang sepanjang hayat.












