Radargempita.co.id
Ragam, – Rasa takut terhadap ketinggian merupakan respons alami yang telah tertanam dalam sistem biologis manusia sejak jutaan tahun lalu.

Ketika seseorang berada di tempat tinggi lalu melihat ke bawah, tubuh secara otomatis memunculkan rasa waspada, tegang, hingga dorongan untuk menjauh dari tepi.
Respons tersebut bukan sekadar reaksi psikologis biasa, melainkan bagian dari mekanisme bertahan hidup yang diwariskan melalui evolusi.
Para peneliti menyebut rasa takut terhadap ketinggian sebagai respons yang “terkonservasi secara evolusioner”, yakni naluri yang bertahan pada banyak spesies mamalia selama jutaan tahun.
Dalam sudut pandang ilmiah, ketakutan ini bukan dianggap sebagai gangguan semata, tetapi sebagai bentuk perlindungan alami terhadap ancaman yang berpotensi mematikan.
Salah satu penelitian paling terkenal mengenai hal ini dilakukan psikolog Eleanor Gibson dan Richard Walk pada 1960 melalui eksperimen “visual cliff” atau tebing visual.
Dalam percobaan tersebut, bayi berusia enam hingga 14 bulan ditempatkan di atas permukaan kaca yang menciptakan ilusi jurang curam.
Meski permukaan itu aman, sebagian besar bayi menolak melangkah ketika melihat kedalaman di bawahnya.
Temuan serupa juga terlihat pada berbagai hewan seperti anak ayam, kambing, domba, tikus, dan anak kucing.
Banyak di antaranya menunjukkan ketakutan terhadap ketinggian sejak pertama kali mampu bergerak, bahkan sebelum pernah mengalami jatuh atau cedera.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa rasa takut terhadap ketinggian merupakan naluri bawaan, bukan semata hasil pengalaman traumatis.
Pandangan tersebut kemudian diperkuat oleh penelitian psikolog Ross Menzies dan David Clarke pada 1990-an.
Mereka menemukan bahwa banyak individu yang takut ketinggian tidak memiliki pengalaman buruk sebelumnya, seperti jatuh atau menyaksikan kecelakaan dari tempat tinggi.
Ketakutan itu muncul begitu saja sejak masa awal kehidupan mereka.
Penelitian lanjutan bahkan menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak memiliki rasa takut terhadap ketinggian justru lebih sering mengalami jatuh.
Temuan ini bertolak belakang dengan teori lama yang menyebut ketakutan selalu terbentuk akibat pengalaman buruk.
Psikolog Martin Seligman kemudian menjelaskan fenomena itu melalui teori kesiapan atau preparedness theory.
Menurut teori tersebut, evolusi membuat otak manusia lebih mudah mengembangkan rasa takut terhadap ancaman yang sejak lama berbahaya bagi kelangsungan hidup, termasuk ketinggian.
Individu yang lebih berhati-hati di tempat tinggi memiliki peluang hidup lebih besar dibanding mereka yang ceroboh.
Dari sisi ilmu saraf, rasa takut terhadap ketinggian juga berkaitan dengan aktivitas bagian otak bernama basolateral amygdala (BLA), yakni kumpulan neuron di lobus temporal yang berperan dalam pemrosesan rasa takut.
Penelitian yang dimuat dalam Journal of Neuroscience pada 2021 menemukan adanya neuron khusus yang aktif saat hewan berada di tempat tinggi.
Aktivasi neuron tersebut memicu respons fisik seperti peningkatan detak jantung, tubuh menegang, hingga perilaku membeku karena takut.
Menariknya, neuron itu tidak merespons ancaman lain seperti suara keras atau bau predator, sehingga diduga memiliki fungsi khusus untuk mendeteksi bahaya ketinggian.
Selain faktor otak, rasa takut terhadap ketinggian juga dipengaruhi kerja dua sistem tubuh, yakni sistem visual dan sistem vestibular di telinga bagian dalam yang mengatur keseimbangan.
Saat berada di tempat tinggi, kedua sistem tersebut dapat mengalami ketidakselarasan dalam membaca posisi tubuh dan jarak.
Kondisi itu membuat otak menerima sinyal yang membingungkan sehingga memicu sensasi goyah, mual, kehilangan keseimbangan, hingga rasa takut yang kuat.
Pada penderita akrofobia atau fobia ketinggian, ketidakcocokan sinyal tersebut biasanya terjadi lebih intens sehingga memunculkan rasa panik meski situasi sebenarnya aman.
Para peneliti menilai kombinasi antara naluri evolusioner, aktivitas otak, dan mekanisme keseimbangan tubuh menjadi alasan utama mengapa manusia dapat takut terhadap ketinggian meski belum pernah mengalami jatuh sekalipun.
(Red)












