Radargempita.co.id
Jakarta, – Hurikan, topan, dan siklon tropis merupakan fenomena cuaca ekstrem yang kerap terjadi di wilayah tropis dan subtropis. Meski dikenal sangat kuat dan mampu menimbulkan kerusakan besar, badai-badai tersebut memiliki satu keterbatasan yang menarik perhatian para ilmuwan: tidak pernah melintasi garis khatulistiwa.

Secara ilmiah, hurikan, topan, dan siklon tropis sebenarnya merupakan fenomena yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada wilayah kemunculannya. Hurikan terjadi di Atlantik Utara dan Pasifik Timur Laut, topan di Pasifik Barat Laut, sedangkan siklon tropis umumnya terjadi di Samudra Hindia dan Pasifik Selatan.
Badai tropis terbentuk di atas lautan hangat dengan suhu permukaan sekitar 26 derajat Celsius atau lebih. Udara hangat dan lembap dari permukaan laut naik ke atmosfer, kemudian mendingin dan membentuk awan serta badai petir. Proses ini menciptakan pusat tekanan rendah yang menarik lebih banyak udara ke dalam sistem, sehingga badai semakin berkembang.

Foto: Garis khatulistiwa
Namun, pembentukan badai tropis tidak hanya membutuhkan suhu laut yang hangat. Faktor penting lainnya adalah gaya Coriolis, yaitu efek yang muncul akibat rotasi Bumi. Gaya ini membuat massa udara berbelok dan menyebabkan badai berputar.
Di Belahan Bumi Utara, badai berputar berlawanan arah jarum jam, sementara di Belahan Bumi Selatan berputar searah jarum jam. Putaran inilah yang menjadi kunci terbentuk dan bertahannya struktur badai tropis.
Masalahnya, gaya Coriolis hampir tidak ada di wilayah khatulistiwa. Karena itu, badai tropis sangat jarang terbentuk dalam radius sekitar 300 kilometer dari garis ekuator. Tanpa gaya Coriolis yang cukup kuat, sistem cuaca yang berkembang tidak mampu memperoleh putaran yang diperlukan untuk menjadi badai tropis.
Salah satu pengecualian langka adalah Topan Vamei pada 2001 yang terbentuk sekitar 150 kilometer di utara khatulistiwa. Namun, peristiwa tersebut dianggap sangat tidak biasa dan hanya terjadi dalam kondisi atmosfer yang sangat spesifik.
Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan bahwa secara umum siklon tropis memang tidak dapat melintasi garis khatulistiwa.
Menurutnya, gaya Coriolis bertanggung jawab membelokkan angin ke arah kanan di Belahan Bumi Utara dan ke arah kiri di Belahan Bumi Selatan. Kekuatan gaya tersebut semakin besar di lintang tinggi dan semakin melemah mendekati ekuator.
“Di ekuator, gaya Coriolis bernilai nol,” jelas Guswanto.
Kondisi tersebut membuat badai tropis kehilangan mekanisme utama yang menjaga putarannya. Akibatnya, badai tidak mampu mempertahankan struktur dan kekuatannya jika bergerak terlalu dekat ke garis khatulistiwa.
Dengan demikian, garis khatulistiwa dapat dianggap sebagai batas alami yang tidak terlihat bagi badai tropis. Meski badai dapat menguasai sebagian besar wilayah tropis dunia, kawasan sempit di sekitar ekuator tetap menjadi wilayah yang hampir mustahil bagi badai tropis untuk terbentuk maupun melintas.
(Lie)












