Radargempita.co.id
Sejarah, – Setiap peringatan Hari Pahlawan 10 November, nama Bung Tomo selalu menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya terhadap pasukan Sekutu. Namun di balik kobaran semangat perjuangan itu, terdapat sosok penting yang memimpin langsung pertahanan kota, yakni Mayor Jenderal TNI (Purn.) Sungkono.

Lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1911, Sungkono merupakan tokoh militer yang memegang peran strategis dalam Pertempuran Surabaya 1945. Meski kontribusinya besar, namanya kini relatif jarang disebut dalam narasi sejarah populer dibandingkan sejumlah tokoh lainnya.
Pada malam 9 November 1945, Markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jalan Pregolan 4, Surabaya, dipenuhi para pejuang dan komandan yang menunggu keputusan terkait ultimatum pasukan Inggris. Saat itu, Kolonel Sungkono baru saja ditunjuk sebagai Komandan Pertahanan Kota Surabaya.
Dalam pertemuan tersebut, Sungkono menegaskan tekad untuk mempertahankan Surabaya dari ancaman pasukan Sekutu.
“Saya ingin mempertahankan Kota Surabaya. Surabaya tidak bisa kita lepaskan dari bahaya ini,” demikian salah satu pernyataan Sungkono yang tercatat dalam buku Surabaya 1945: Sakral Tanahku.
Pernyataan itu disambut para pejuang dengan ikrar perjuangan bersemboyan “Merdeka atau Mati”, yang kemudian ditandatangani para komandan perlawanan.
Tanggung jawab yang dipikul Sungkono saat itu tidak ringan. Ia harus memimpin pertahanan kota menghadapi kekuatan militer Inggris yang jauh lebih unggul dalam jumlah personel maupun persenjataan. Pasukan Sekutu didukung kapal perang, tank, serta pesawat tempur, sementara para pejuang Indonesia hanya mengandalkan senjata rampasan, granat, senapan ringan, dan bambu runcing.
Meski berada dalam situasi yang serba terbatas, Sungkono tetap menunjukkan ketenangan. Dalam berbagai kesaksian rekan seperjuangannya, ia dikenal sebagai pemimpin yang terus melakukan inspeksi dan memastikan kesiapan pasukan hingga menjelang pecahnya pertempuran besar pada 10 November 1945.
Ketika serangan besar-besaran Inggris dimulai dari darat, laut, dan udara, pasukan Indonesia di bawah komando Sungkono memberikan perlawanan sengit. Pertahanan Surabaya mampu bertahan selama sekitar tiga pekan sebelum kota tersebut akhirnya dikuasai Sekutu.
Sejarawan Australia Frank Palmos menilai peran Sungkono sangat penting dalam mengorganisasi kekuatan militer Indonesia selama pertempuran berlangsung. Menurutnya, Bung Tomo berperan besar dalam membangkitkan semangat perjuangan rakyat melalui pidato-pidatonya, sedangkan pengaturan strategi dan pasukan di lapangan berada di bawah komando Sungkono.
Jauh sebelum Pertempuran 10 November, Sungkono juga aktif memimpin pelucutan senjata tentara Jepang di Surabaya. Langkah tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat persenjataan para pejuang Arek Suroboyo dalam menghadapi pasukan Sekutu.
Di balik ketegasannya sebagai komandan perang, Sungkono dikenal sebagai sosok sederhana. Berdasarkan kesaksian keluarganya yang dimuat dalam penelitian akademik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), ia kerap mengenakan pakaian yang dijahitnya sendiri.
Setelah kemerdekaan, karier militernya terus berkembang hingga mencapai pangkat Mayor Jenderal. Sungkono wafat di Jakarta pada 12 September 1977 dalam usia 66 tahun.
Kini, jejak namanya masih dapat ditemukan melalui Jalan Mayjen Sungkono di Surabaya, salah satu akses utama menuju Taman Makam Pahlawan 10 November. Namun bagi sebagian masyarakat, sosok komandan yang memimpin langsung pertahanan Surabaya pada salah satu pertempuran terbesar dalam sejarah kemerdekaan Indonesia itu perlahan mulai terlupakan.
Padahal, dalam catatan sejarah, Mayjen Sungkono merupakan salah satu tokoh kunci yang berdiri di garis depan mempertahankan Surabaya saat semboyan “Merdeka atau Mati” menggema ke seluruh penjuru kota.
(Redaksi)











