Radargempita.co.id
Sejarah, – Mantan aktivis PRD, Kamper, kembali menyoroti misteri hilangnya aktivis 1998 Petrus Bimo Anugrah. Ia mendesak agar fakta di balik dugaan penculikan dan kematian Bimo diungkap secara terbuka demi memenuhi rasa keadilan bagi keluarga korban dan publik.

Kamper mengaku tidak pernah melupakan peristiwa 30 Maret 1998, yang menurutnya menjadi hari ketika Petrus Bimo Anugrah diduga diculik dan kemudian dibunuh. Ia menyebut memiliki hubungan pertemanan dengan Bimo sehingga selama ini lebih memilih menelusuri informasi mengenai kematian rekannya tersebut daripada menuliskannya sebagai pemberitaan.
Dalam keterangannya, Kamper mengaku telah beberapa kali meminta penjelasan kepada seorang purnawirawan Laksamana TNI AL berinisial MW yang pernah bertugas di Badan Intelijen Negara (BIN). Menurut Kamper, narasumber tersebut menyatakan bahwa Bimo telah meninggal dunia dan mengklaim penculikannya dilakukan oleh satuan pasukan khusus TNI AD. Ia juga menyebut kasus Bimo berbeda dengan kasus hilangnya aktivis .
Kamper juga mengutip keterangan Ketua Tim Pencari Fakta Independen Tragedi Mei 1998, Kiki, yang mengklaim Bimo bersama sejumlah aktivis lainnya dibunuh di kawasan Kepulauan Seribu. Menurut klaim tersebut, para korban ditemukan dalam kondisi mata tertutup, tangan dan kaki terborgol, serta diberi pemberat sebelum jasad mereka diduga terdampar di pesisir Kalianda, Lampung Selatan, dan dimakamkan oleh warga tanpa penanda makam.

Foto: Istimewa
Hingga kini, seluruh pernyataan tersebut masih merupakan klaim narasumber yang belum dapat diverifikasi secara independen maupun dibuktikan melalui putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap. Belum terdapat pernyataan resmi dari institusi terkait yang mengonfirmasi rincian dugaan tersebut. Kasus hilangnya aktivis 1998 sendiri masih menjadi salah satu isu pelanggaran HAM yang terus didorong penyelesaiannya oleh keluarga korban dan pegiat hak asasi manusia.
(Redaksi)












