Sejarah, – radargempita.co || Namanya tidak tercatat dalam daftar pahlawan nasional, tetapi di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, kisahnya tetap hidup. Bura dikenal sebagai pemimpin laskar rakyat yang melawan Belanda di wilayah utara Jember sekitar 1947 sampai 1948. Ia bukan tentara resmi, melainkan pejuang desa yang bergerak dengan dukungan warga dan menggunakan senjata sederhana, termasuk celurit yang menjadi ciri khasnya.
Selama masa pengejaran, Belanda mengalami kesulitan menangkapnya. Bura memahami medan desa, kebun, dan sungai, serta terus berpindah tempat untuk menghindari patroli. Warga yang bersimpati juga membantu melindunginya. Keberadaannya menjadi ancaman serius bagi pasukan kolonial yang berusaha menguasai wilayah tersebut.
Namun perlawanan itu runtuh karena pengkhianatan. Konon menurut cerita yang diwariskan masyarakat, seseorang membocorkan informasi tentang identitas dan lokasi keluarga Bura kepada Belanda. Informasi ini menjadi kunci. Pasukan Belanda kemudian mendatangi rumah ibunya di Desa Jatian dan menangkapnya untuk dijadikan sandera, dengan tujuan memancing Bura keluar dari persembunyian.

Foto: Monumen Bura
Strategi itu berhasil. Setelah mendengar ibunya ditangkap, Bura muncul. Sebagian cerita menyebut ia menyerahkan diri demi menyelamatkan ibunya, sementara versi lain menyebut ia datang untuk membebaskan sang ibu tetapi sudah dikepung. Yang jelas, setelah Bura tertangkap, ibunya dilepaskan dan kembali ke desa dalam keadaan selamat, meski harus kehilangan anaknya dalam perjuangan.
Setelah ditangkap, Bura dibawa dan diperlihatkan kepada warga sebagai bentuk propaganda untuk melemahkan semangat perlawanan. Tanggal yang paling sering disebut dalam ingatan masyarakat adalah 26 Maret 1948 sebagai hari kematiannya. Detail eksekusinya berbeda dalam setiap versi, dan tidak ada arsip resmi yang mencatat secara pasti proses tersebut.
Untuk mengenang sosok Bura. kini sebuah monumen sederhana berdiri tepat di Dusun Prasian, Desa Jatian, sebagai penanda pengorbanannya. Meski tidak tercatat dalam sejarah resmi negara, Bura tetap dikenang oleh masyarakat sebagai pejuang yang memilih menghadapi penjajah, hingga akhirnya mengorbankan diri demi menyelamatkan sang ibu.
Facebook Comments Box









