Radargempita.co.id
Alam – Sains, – Letusan Gunung Tambora yang mencapai puncaknya pada 10 April 1815 masih dikenang sebagai salah satu bencana alam paling dahsyat dalam sejarah manusia. Tepat 211 tahun kemudian, peristiwa tersebut tidak hanya dipelajari sebagai tragedi vulkanik, tetapi juga sebagai pelajaran penting tentang bagaimana bencana alam dapat memicu krisis global berkepanjangan.

Erupsi Tambora tercatat memiliki kekuatan level tujuh dari delapan pada Volcano Explosivity Index (VEI), menjadikannya letusan terbesar dalam sejarah modern. Material vulkanik terlontar hingga puluhan kilometer ke atmosfer, sementara aliran piroklastik dan lahar panas menghancurkan permukiman di sekitar Pulau Sumbawa.
Selain menewaskan ribuan warga secara langsung, letusan itu juga mengubah bentuk fisik gunung secara drastis. Ketinggian Tambora yang semula sekitar 4.267 meter menyusut menjadi sekitar 2.743 meter setelah sebagian besar tubuh gunung runtuh akibat ledakan besar.
Namun, sejumlah penelitian sejarah dan ilmiah menunjukkan bahwa dampak paling mematikan justru muncul setelah letusan mereda. Abu vulkanik dan aerosol sulfur yang menyebar ke atmosfer bumi memicu perubahan iklim global, gagal panen massal, hingga wabah penyakit di berbagai negara.
Data dari berbagai kajian sejarah menyebutkan sekitar 10.000 hingga 12.000 orang meninggal dunia secara langsung akibat awan panas, gas beracun, dan tsunami yang dipicu erupsi. Akan tetapi, korban tidak langsung akibat kelaparan dan penyakit diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa di kawasan Nusantara dan sekitarnya.

Foto: Menurut penelitian, letusan Gunung Tambora turut andil dalam kekalahan Napoleon Bonaparte di Pertempuran Waterloo.
Penulis buku Tambora: The Eruption That Changed the World, Gillen D’Arcy Wood, menyebut dampak global letusan Tambora bahkan jauh lebih luas. Menurutnya, sekitar 100 megaton aerosol sulfur yang masuk ke stratosfer membentuk kabut atmosfer yang menghalangi sinar matahari dan menurunkan suhu bumi hingga sekitar 1,7 derajat Celsius.
Fenomena itu kemudian memicu “tahun tanpa musim panas” pada 1816 di sejumlah wilayah dunia. Di Amerika Serikat bagian timur, salju dan embun beku masih terjadi pada musim panas, sementara di China suhu dingin merusak lahan pertanian dan memicu krisis pangan.
Kondisi cuaca ekstrem juga diyakini mempercepat munculnya wabah kolera di kawasan Teluk Benggala yang kemudian berkembang menjadi pandemi global.
Sejumlah ahli menilai dampak sekunder seperti perubahan iklim, kelaparan, dan penyakit kemungkinan merenggut korban jiwa jauh lebih besar dibandingkan ledakan vulkaniknya sendiri.
Para ilmuwan menilai peristiwa Tambora menjadi pengingat bahwa dunia modern tetap rentan terhadap letusan gunung api berskala besar. Vulkanolog Janine Krippner menyebut saat ini ratusan juta manusia tinggal di sekitar gunung api aktif di berbagai negara.
Sementara itu, akademisi Joseph Manning menilai ancaman terbesar pada era modern bukan hanya letusan itu sendiri, melainkan gangguan iklim global dan terganggunya rantai distribusi pangan dunia yang kini semakin saling terhubung.
Dampak sosial budaya dari letusan Tambora juga tercatat sangat besar. Sejarah mencatat adanya komunitas lokal di Sumbawa yang hilang akibat bencana tersebut, termasuk bahasa daerah yang kini dinyatakan punah dan hanya menyisakan sedikit jejak kosakata.
Peneliti dari Smithsonian Institution’s Global Volcanism Program, Liz Cottrell, menegaskan bahwa kelompok masyarakat rentan tetap menjadi pihak yang paling terdampak ketika bencana besar terjadi.
Sebagai perbandingan, erupsi Gunung Pinatubo pada 1991 yang skalanya jauh lebih kecil dibanding Tambora terbukti mampu menurunkan suhu bumi sekitar 0,5 derajat Celsius. Fakta itu menunjukkan betapa besar pengaruh letusan gunung api terhadap sistem iklim global.
Hingga kini, ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi secara pasti kapan letusan besar berikutnya akan terjadi. Meski teknologi mitigasi bencana terus berkembang, para ahli menilai dunia modern masih menghadapi tantangan besar dalam menghadapi dampak iklim, pangan, dan kesehatan yang dapat muncul akibat erupsi supervulkanik.
Peringatan 211 tahun letusan Tambora tidak hanya menjadi refleksi sejarah, tetapi juga pengingat penting bahwa bencana alam dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan global apabila tidak diantisipasi dengan kesiapsiagaan, riset ilmiah, dan kerja sama internasional yang kuat.
(Lie)












