Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Waspada Manipulasi di Ruang Digital, Diantara AI dan Ilusi Suara Rakyat?

badge-check


					Waspada Manipulasi di Ruang Digital, Diantara AI dan Ilusi Suara Rakyat? Perbesar

Radargempita.co.id

Sains, – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai membawa tantangan baru bagi sistem demokrasi global, termasuk di Indonesia. Sejumlah peneliti lintas disiplin memperingatkan bahwa ancaman ini bersifat halus dan sulit terdeteksi, berbeda dengan metode manipulasi politik konvensional.

Dalam kajian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Science, tim peneliti internasional mengungkap potensi penggunaan persona berbasis AI yang mampu meniru perilaku manusia secara meyakinkan di ruang digital.

Teknologi ini dinilai berpeluang besar memengaruhi opini publik dan dinamika demokrasi.

Persona AI tersebut dapat memasuki komunitas daring, terlibat dalam diskusi, serta membentuk sudut pandang tertentu dengan cepat.

Berbeda dari bot tradisional, sistem ini mampu berkoordinasi secara simultan, merespons umpan balik, dan mempertahankan narasi yang konsisten di ribuan akun.

Kemajuan model bahasa besar dan sistem multi-agen memungkinkan satu operator mengendalikan banyak “identitas” digital yang tampak autentik. Persona ini dapat menyesuaikan bahasa, gaya komunikasi, hingga konteks lokal, sehingga sulit dibedakan dari pengguna asli.

Selain itu, mereka mampu melakukan eksperimen komunikasi dalam skala besar untuk mengidentifikasi pesan yang paling efektif memengaruhi audiens.

Kondisi ini berpotensi menciptakan ilusi konsensus publik. Padahal, kesepakatan tersebut dapat terbentuk secara artifisial melalui rekayasa komunikasi yang terstruktur.

Sejumlah indikasi awal telah terlihat, seperti maraknya konten deepfake dan penyebaran informasi palsu yang memengaruhi percakapan publik dalam pemilu di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Taiwan, India, dan Indonesia.

Temuan ini juga diperkuat oleh laporan berbagai organisasi pemantau yang mengidentifikasi jaringan penyebaran konten digital dalam jumlah besar.

Peneliti dari University of British Columbia (UBC), Kevin Leyton-Brown, yang terlibat dalam studi tersebut, menyebut bahwa fenomena ini berpotensi mengubah pola kepercayaan masyarakat terhadap informasi daring.

Foto: Ilustrasi Kecanggihan AI (Ilusi Atas Suara Rakyat?)

Ia memperingatkan, menurunnya kepercayaan terhadap sumber anonim di media sosial dapat memperkuat dominasi figur publik atau selebritas, sekaligus menyulitkan suara akar rumput untuk mendapat perhatian.

Para ahli menilai, pemilihan umum mendatang akan menjadi momentum krusial untuk menguji sejauh mana pengaruh teknologi ini.

Tantangan utama bagi pemerintah, platform digital, dan masyarakat adalah mengenali serta merespons kampanye berbasis AI sebelum dampaknya meluas dan sulit dikendalikan.

Di sisi lain, para peneliti juga menekankan pentingnya peningkatan literasi digital, transparansi teknologi, serta regulasi yang adaptif agar pemanfaatan AI tetap berada dalam koridor yang mendukung demokrasi, bukan justru merusaknya.

(Lie)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

South Treasure Metland Cyber Puri, Pilihan Hunian untuk Pengalaman Luxury Living

1 September 2026 - 16:05 WIB

Bitcoin Menuju US$100.000? BlackRock Dorong Lebih dari US$5 Miliar BTC Masuk ETF

1 September 2026 - 15:54 WIB

Vietnam Wedding Week 2026 Resmi Menutup The Love City, Satukan Fashion Pengantin, Pengalaman, dan Ekosistem Pernikahan

1 September 2026 - 14:45 WIB

Koramil 05/KJ Melalui Babinsa Duri Kepa Dorong Petugas Keamanan Perkuat Kewaspadaan dan Pelayanan Warga

1 September 2026 - 12:50 WIB

Koramil 05/Kebon Jeruk Perkuat Penanganan Darurat Sampah di Duri Kepa

1 September 2026 - 12:34 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan