Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Hari Kesehatan Tanaman Internasional dan Ancaman Krisis Pangan Global?

badge-check


					Hari Kesehatan Tanaman Internasional dan Ancaman Krisis Pangan Global? Perbesar

Radargempita.co.id

Alam, – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 12 Mei sebagai Hari Kesehatan Tanaman Internasional untuk meningkatkan kesadaran dunia bahwa perlindungan tanaman menjadi kunci dalam mengatasi kelaparan, mengurangi kemiskinan, serta menjaga keanekaragaman hayati.

Peringatan ini merupakan warisan dari International Year of Plant Health 2020. Urgensinya tidak lepas dari peran vital tanaman yang menyediakan sekitar 80 persen pangan dunia dan menghasilkan 98 persen oksigen bagi kehidupan manusia.

Namun, ancaman terhadap kesehatan tanaman terus meningkat. Setiap tahun, dunia kehilangan hingga 40 persen hasil panen akibat serangan hama dan penyakit tanaman.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga memicu kerugian ekonomi global dan memperburuk ketahanan pangan.

Foto: Istimewa

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat kerugian perdagangan produk pertanian akibat hama tanaman mencapai lebih dari 220 miliar dolar AS per tahun.

Sementara itu, hama invasif menyebabkan kerugian ekonomi global sedikitnya 70 miliar dolar AS.

Situasi ini menjadi ancaman serius terhadap akses pangan dunia. Data FAO menunjukkan sebanyak 638 hingga 720 juta orang mengalami kelaparan sepanjang 2024.

Secara global, satu dari 11 orang menghadapi kelaparan, sedangkan di Afrika angkanya mencapai satu dari lima orang.

Perubahan iklim disebut memperburuk penyebaran hama tanaman.

Dalam laporan Scientific Review of the Impact of Climate Change on Plant Pests (2021), FAO menyebut peningkatan suhu, kadar karbon dioksida, ozon, serta perubahan pola curah hujan telah mendorong lonjakan hama dalam tiga hingga empat dekade terakhir.

Mobilitas manusia dan perdagangan internasional juga mempercepat penyebaran penyakit tanaman lintas negara.

Foto: Istimewa

Salah satu kasus yang menjadi perhatian dunia ialah serangan bakteri Xylella fastidiosa pada kebun zaitun di kawasan Mediterania sejak 2013 yang menghancurkan jutaan pohon zaitun di Italia selatan dan mengancam mata pencaharian petani kecil.

Dampak kerusakan tanaman tidak berhenti pada sektor pangan. Dalam pendekatan One Health, tanaman yang terinfeksi dapat menjadi sumber penyebaran patogen ke hewan dan manusia. Risiko ini berpotensi memicu wabah penyakit hingga zoonosis.

Kerusakan tanaman juga memengaruhi kemampuan hutan menyerap karbon. Pohon yang tidak sehat dinilai kurang efektif menyerap gas rumah kaca sehingga mempercepat laju pemanasan global.

Menghadapi kondisi tersebut, penguatan sistem biosekuriti menjadi langkah penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya hama berbahaya.

Di Afrika, International Institute of Tropical Agriculture (IITA) menyebut benua itu kehilangan sekitar 50 persen hasil panen setiap tahun akibat serangan hama.

Sebagai respons, IITA menjalankan puluhan proyek pengendalian hama yang mencakup penanganan jamur, virus, bakteri, serangga, tungau, hingga nematoda guna membantu jutaan petani meningkatkan produktivitas pertanian.

Di sisi lain, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan mulai ditinggalkan karena dinilai merusak keseimbangan ekosistem dan mengurangi populasi serangga bermanfaat, termasuk penyerbuk alami.

Pendekatan Integrated Pest Management (IPM) kini didorong sebagai solusi berkelanjutan melalui rotasi tanaman, pengendalian hayati, serta perlindungan habitat alami untuk menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan kualitas pangan.

United Nations Environment Programme (UNEP) bahkan memperingatkan bahwa dunia saat ini membutuhkan setara 1,6 Bumi untuk menopang gaya hidup manusia karena kemampuan ekosistem terus menurun.

Dari sekitar 8 juta spesies tumbuhan dan hewan di dunia, sebanyak 1 juta spesies kini terancam punah.

Sementara itu, laporan International Plant Protection Convention (2022) menegaskan bahwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan kekeringan telah mendorong sistem alam melampaui batas adaptasinya.

Karena itu, penguatan sistem peringatan dini, penyediaan benih unggul, serta pemanfaatan pengetahuan lokal masyarakat adat dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga kesehatan tanaman dan memastikan ketahanan pangan global di tengah ancaman perubahan iklim.

(Lie)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hakim PN Medan Menolak Permohonan Prapid, Orang Tua Korban Menangis Harum

12 Mei 2026 - 22:57 WIB

Hari Terakhir BRI Consumer Expo 2026 Medan, BRI Finance Ajak Masyarakat Manfaatkan Penawaran Spesial

12 Mei 2026 - 15:04 WIB

Hukum Berkeadilan Tak Akan Kalah oleh Hoaks dan Framing Negatif

12 Mei 2026 - 14:58 WIB

Bupati Deli Serdang Apresiasi Pengungkapan 89 Kg Sabu, Tegaskan Sanksi Berat Hingga Pemecatan Bagi ASN Terlibat Narkoba

12 Mei 2026 - 13:12 WIB

Moehammad Jasin, Bapak Brimob yang Menolak Tunduk pada Penjajah

12 Mei 2026 - 13:06 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan