Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Breaking News

Hari Bumi: Kesejahteraan Manusia Tersandera Gaya Hidup Konsumtif?

badge-check


					Hari Bumi: Kesejahteraan Manusia Tersandera Gaya Hidup Konsumtif? Perbesar

Radargempita.co.id

Ragam, – Peringatan Hari Bumi menjadi momentum refleksi: apakah kesejahteraan manusia saat ini benar-benar selaras dengan alam, atau justru dibangun di atas kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan?

Peringatan Hari Bumi Sedunia kembali mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan.

Namun di tengah arus modernisasi, gaya hidup konsumtif dinilai semakin menjauhkan manusia dari makna kesejahteraan yang sesungguhnya.

Sejumlah peneliti kepada National Geographic menekankan konsep human flourishing, yakni kesejahteraan yang tidak semata diukur dari kepemilikan materi, melainkan dari kualitas hidup, makna, serta hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Dalam perspektif ini, kebahagiaan tidak identik dengan akumulasi barang, tetapi dengan keseimbangan hidup.

Fenomena konsumerisme saat ini dinilai kian mengkhawatirkan. Kebiasaan membeli barang secara impulsif membuat masyarakat terjebak pada kebutuhan semu. Banyak produk yang akhirnya tidak digunakan dan berujung menjadi limbah, menambah beban lingkungan.

Kondisi ini ironi: upaya mengejar kenyamanan hidup justru berkontribusi terhadap kerusakan alam yang pada akhirnya mengancam kualitas hidup manusia sendiri.

Di kawasan urban, tekanan ekonomi dan tuntutan gaya hidup memperparah siklus tersebut.

Di sisi lain, perspektif berbeda ditunjukkan oleh masyarakat adat. Sejumlah studi, termasuk penelitian Tsuji dan tim, menunjukkan bahwa kesejahteraan dalam komunitas adat dipahami sebagai keseimbangan antara aspek fisik, mental, emosional, dan spiritual.

Bagi mereka, hubungan dengan alam bukan sekadar pemanfaatan sumber daya, melainkan relasi yang harus dijaga. Alam dipandang sebagai entitas yang memiliki nilai dan harus dihormati, bukan dieksploitasi.

Prinsip serupa juga tercermin pada masyarakat adat Marapu di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Filosofi “Djera, matawai amahu, pada njara hamu” menggambarkan keyakinan bahwa tanah merupakan anugerah yang harus dikelola secara bijak dan bertanggung jawab.

Pandangan ini diperkuat oleh pemikiran Michael S. Northcott dalam bukunya God and Gaia, yang menekankan perlunya perubahan cara pandang manusia terhadap bumi.

Ia menyebut bahwa tradisi keagamaan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif untuk menjaga keberlanjutan planet.

Menurutnya, manusia tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang saling terhubung dengan seluruh makhluk hidup. Kesadaran inilah yang dinilai dapat menjadi fondasi bagi masa depan yang berkelanjutan.

Perlu diketahui, Hari Bumi tidak sekadar seremoni tahunan, tetapi peringatan keras bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa dipisahkan dari kesehatan lingkungan. Tanpa perubahan pola hidup dan cara pandang, upaya mengejar kemakmuran justru berisiko mempercepat krisis ekologis yang mengancam kehidupan itu sendiri.

(Lie)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pelindo Multi Terminal Edukasi Program Rumah Kelola Sampah kepada Mahasiswa

23 April 2026 - 15:32 WIB

Grand Launching Asuransi MODI BRI Life, Integrasikan Proteksi dalam Gaya Hidup Modern

23 April 2026 - 15:17 WIB

Rayakan Hari Konsumen, JTT Berikan Kejutan Manis Pengguna Jalan Tol Trans Jawa

23 April 2026 - 14:58 WIB

TNI dan Warga Belu Gotong Royong Jaga Kelestarian Mata Air

23 April 2026 - 14:19 WIB

Laporan terhadap Ade Armando dan Permadi Arya Diproses, Polda Metro Jaya Dalami Bukti Digital

23 April 2026 - 13:41 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan