Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Mantan Aktivis PRD: Narasi “1998 Redux” Didorong Kelompok Oligarki yang Ingin Ciptakan Krisis?

badge-check


					Mantan Aktivis PRD: Narasi “1998 Redux” Didorong Kelompok Oligarki yang Ingin Ciptakan Krisis? Perbesar

Radargempita.co.id

JAKARTA, — Mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), Kamper, menilai narasi dan tagar “1998 Redux” tidak lahir dari aspirasi murni gerakan mahasiswa maupun gerakan sosial. Menurutnya, narasi tersebut didorong oleh kelompok oligarki yang memiliki kepentingan tertentu untuk menciptakan situasi krisis seperti yang terjadi pada 1998.

“Narasi atau tagar ‘1998 Redux’ tidak lahir secara bottom-up dari gerakan sosial dan gerakan mahasiswa. Jika dicermati, narasi tersebut diorkestrasi secara top-down oleh oligarki yang saya sebut sebagai kelompok ‘serakahnomics’ melalui akun-akun proxy di media sosial,” kata Kamper dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (23/06).

Kamper berpendapat pihak-pihak yang mengampanyekan narasi tersebut memiliki kepentingan untuk mengulang kondisi krisis yang pernah terjadi pada 1998 demi memperoleh keuntungan ekonomi dan politik.

Menurut dia, kelompok yang disebutnya sebagai oligarki “serakahnomics” terobsesi mengulangi praktik-praktik yang, dalam pandangannya, pernah terjadi saat krisis moneter dan pergolakan politik 1998.

Dalam keterangannya, Kamper juga menyinggung kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) yang disebutnya sebagai salah satu skandal keuangan terbesar dalam sejarah Indonesia. Ia menilai penyalahgunaan program tersebut telah menimbulkan kerugian negara dalam jumlah sangat besar.

“Kerugian negara akibat penyalahgunaan dana talangan darurat tersebut mencapai ratusan triliun rupiah. Sebagian dana hasil penyimpangan itu, menurut berbagai kajian, mengalir dan ditempatkan di luar negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut Kamper menegaskan bahwa narasi seperti “1998 Redux” maupun “sale Indonesia” tidak bertujuan mendorong perubahan yang berpihak kepada kepentingan rakyat dan negara. Sebaliknya, ia menilai narasi tersebut merupakan bagian dari upaya menciptakan destabilisasi ekonomi, politik, dan sosial.

Ia menilai Indonesia pada awal era Reformasi menghadapi kondisi kelembagaan yang lemah sehingga membuka ruang bagi berbagai kepentingan untuk memanfaatkan situasi yang tidak stabil.

“Ketika kondisi ekonomi dan politik mengalami kekacauan, sementara hukum dan konstitusi tidak berjalan efektif, situasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan,” ujarnya

Karena itu, Kamper meyakini gerakan mahasiswa dan gerakan sosial yang murni tidak akan mengusung narasi yang menurutnya bernada pesimistis terhadap masa depan Indonesia, seperti “Indonesia Gelap”, “Indonesia Bangkrut”, “Sale Indonesia”, “Kabur dari Indonesia”, “Buang Rupiah”, “1998 Redux”, maupun “Indonesia Hancur Total”.

Menurutnya, berbagai tagar tersebut bukan cerminan aspirasi mayoritas mahasiswa dan masyarakat, melainkan menunjukkan adanya kegelisahan kelompok tertentu yang merasa kepentingannya terancam.

“Saya melihat tagar dan narasi tersebut justru mencerminkan situasi yang sedang dihadapi kelompok oligarki ‘serakahnomics’, baik di tingkat nasional maupun multinasional,” tuturnya.

Ia berpendapat pihak yang sesungguhnya menghadapi ancaman bukanlah negara Indonesia, melainkan kelompok-kelompok yang selama ini memperoleh keuntungan dari praktik penguasaan sumber daya dan kekayaan negara secara tidak semestinya.

Kamper juga menilai kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penguatan pengelolaan sumber daya nasional, pemberantasan korupsi, serta penyitaan aset hasil tindak pidana korupsi berpotensi mempersempit ruang gerak kelompok tersebut.

“Menurut saya, pihak yang memiliki kemampuan untuk melakukan ‘sale Indonesia’, ‘buang rupiah’, atau ‘kabur dari Indonesia’ adalah mereka yang memiliki akumulasi kekayaan besar yang diperoleh dari eksploitasi sumber daya dan kekayaan nasional,” pungkas Kamper.

 

(Sumber Pelopor komunitas 98 Resolution Network Haris Rusly Moti)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

25 Kasus Begal di Medan Ungkap, 7 Pelaku Diamankan Polisi

1 Juli 2026 - 01:11 WIB

Razia Narkoba di Kafe Patumbak Dihadang Massa, Empat Orang Ditahan, Dua Lainnya Masih Diburu

30 Juni 2026 - 17:25 WIB

HUT Jakarta ke-499, PAM JAYA Anugerahkan Jakarta Water Hero 2026 dan Rekor MURI Sambungan Rumah

30 Juni 2026 - 14:44 WIB

Standar Pelayanan LRT Jabodebek Jadi Referensi Peningkatan Layanan Transportasi Publik

30 Juni 2026 - 13:38 WIB

Polres Batu Bara Amankan Enam Tersangka Narkoba, Salah Satunya Anak di Bawah Umur

30 Juni 2026 - 12:46 WIB

Trending di Breaking News

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan