Radargempita.co.id
JAKARTA – Tren vertikal drama di industri sinema digital tanah air semakin menggeliat. Terbaru, sutradara sekaligus penulis skenario Ardian S. Perkasa mengumumkan bahwa dirinya telah resmi merampungkan cerita dan skenario untuk proyek vertikal drama terbarunya yang bertajuk “Ibu” Dengan judul Peluk Ibu Untuk Yang Terakhir ( Sesi Foto)

Saat ditemui di kediamannya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Minggu (24/5/2026), Ardian membagikan detail mengenai proyek menyentuh hati ini, yang membawa judul utama “Peluk Ibu untuk yang Terakhir: SESI FOTO”
Menurut Ardian, proses produksi rencananya akan dimulai pada bulan Juni 2026 mendatang. Meskipun tanggal pastinya belum ditentukan, proyek ini dipastikan akan mengambil latar tempat di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah dengan pengambilan Sett jakarta dan Jogjakarta.
“Skenario dan ceritanya sudah rampung hari ini. Rencananya on proses produksi bulan depan (Juni). Untuk lokasi syuting, kami akan mengambil latar eksotisme dan kehangatan Yogyakarta,dan jakarta” ujar Ardian.
Sinopsis nya bagaikan Sentilan Keras untuk Anak Muda yang Abai pada Orang Tua, yang lebih memprioritaskan pekerjaan karir dari pada ibu nya. Sedangkan Rasulullah sebelum wafat nya pernah berkata Ibu mu Ibu mu Ibu mu ayah mu alasan Rasulullah SAW menyebut ibu sampai tiga kali dalam hadits di atas menunjukkan kecintaan dan kasih sayang kepada seorang ibu harus tiga kali lipat dibandingkan pada seorang ayah.
Drama ini membawa premis yang sangat dekat dengan realitas kehidupan urban saat ini: keberhasilan materi seorang anak menjadi tidak berarti ketika ia terlambat menyadari bahwa waktu bersama ibunya telah habis.
Kisah ini berfokus pada karakter Satya (28) seorang eksekutif muda ambisius di Jakarta yang sukses meraih puncak kariernya. Di tengah rapat besar penentuan promosinya, ia berulang kali menolak telepon dari Ibu (60) di kampung halaman karena menganggapnya mengganggu. Satya bahkan mengirim pesan ketus bahwa ia sedang sibuk dan berjanji akan mentransfer uang.
Tanpa Satya ketahui, sang ibu sedang berjuang melawan penyakit parah stadium akhir dalam kesunyian. Sang ibu akhirnya mengembuskan napas terakhirnya malam itu sambil memeluk foto masa kecil Satya.
Saat Satya kembali ke kampung halaman dengan penyesalan yang membakar dada, ia menemukan sepucuk surat terakhir dari ibunya yang menuliskan:
“Ibu tidak butuh uang transferanmu, Nak. Ibu cuma rindu…”
Tangis Satya pecah sejadi-jadinya saat mendekap tubuh kaku sang ibu untuk terakhir kalinya. Sesi foto masa lalu yang tersimpan kini berubah menjadi simbol kenangan sekaligus penyesalan terdalam bagi Satya.
Sebagai sebuah vertikal drama, Ardian akan memaksimalkan aspek visual untuk mengaduk emosi penonton. Melalui format vertikal, penonton akan disuguhkan visual big close-up yang tajam untuk menyorot kehancuran ekspresi wajah Satya saat menghadapi kenyataan pahit tersebut.
Berikut adalah detail karakter utama dalam drama “Peluk Ibu Untuk Yang Terakhir ”
Satya (28 Tahun) Karakter eksekutif muda yang ambisius, egois, dan selalu terburu-buru. Ia merasa bahwa membahagiakan orang tua selalu diukur dengan materi. Karakternya digambarkan kontras mulai dari ruang kantor yang sempit (simbol keterjebakan ambisi) hingga ruang kosong yang luas saat ia menangis di kampung halaman.
Ibu (60 Tahun) Sosok ibu sederhana khas daerah yang tulus, penyabar, dan tidak pernah mengeluh. Meskipun mengidap penyakit parah, ia menyembunyikannya agar tidak membebani anaknya di kota. Satu-satunya keinginan terakhirnya hanyalah pelukan hangat dari sang anak.
Dengan cerita yang kuat dan relevan bagi banyak perantau, “Peluk Ibu untuk yang Terakhir: SESI FOTO” diharapkan mampu menjadi refleksi mendalam bagi para penonton agar tidak mengabaikan orang tua demi mengejar duniawi.
((Red)












