Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Breaking News

Dahaga di Tengah Kaldera Toba

badge-check


					Dahaga di Tengah Kaldera Toba Perbesar

Radargempita.co.id

Ragam, – Di tengah bentang megah Danau Toba, ironi tengah dihadapi warga desa-desa di Pulau Samosir. Kawasan yang berada di jantung kaldera vulkanik terbesar di dunia itu justru mengalami krisis air yang mengancam pertanian dan keberlangsungan hidup masyarakatnya.

Di Desa Onan Runggu, tanah-tanah pertanian mulai merekah akibat kemarau yang berkepanjangan. Curah hujan yang semakin tidak menentu membuat para petani kesulitan menanam padi maupun tanaman pangan lainnya.

“Kalau tidak datang hujan, kami tidak bisa bertani,” ujar Jefri Butar-butar, seorang petani setempat, dalam keterangannya Sabtu (23/05).

Dalam beberapa tahun terakhir, warga merasakan perubahan musim yang semakin sulit diprediksi. Pengetahuan tradisional masyarakat Batak yang dahulu menjadi pedoman bercocok tanam kini mulai kehilangan pijakan akibat perubahan iklim yang terus berlangsung.

Foto: Danau Toba adalah tulang punggung kehidupan masyarakat Batak di tepiannya. Kesuburan tanah dan ikan-ikannya menghidupi generasi ke generasi. Meski pariwisata menjanjikan kunjungan, bagi mereka, yang lebih mendesak adalah keberlanjutan

Pulau Samosir sendiri merupakan daratan yang terbentuk dari pengangkatan dasar kaldera pasca-erupsi besar Danau Toba sekitar 74 ribu tahun lalu. Kawasan ini bukan hanya menjadi ruang hidup masyarakat Batak, tetapi juga pusat warisan budaya dan sejarah leluhur yang dijaga turun-temurun.

Namun, di balik promosi besar-besaran Danau Toba sebagai destinasi wisata dan kawasan ekonomi masa depan, banyak desa di sekitarnya justru masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar berupa air untuk pertanian.

Sementara itu, Kepala Desa Onan Runggu, Binsar Marbun, mengatakan perubahan cuaca membuat musim tanam semakin tidak menentu. Padi yang ditanam pada awal tahun kerap gagal panen akibat kekeringan beberapa bulan kemudian.

“Kalau gagal panen terus-menerus, masyarakat mulai kehilangan harapan,” kata Binsar.

Foto: Petak-petak sawah dan ladang terbengkalai karena ditinggalkan pemiliknya yang menyerah pada keringnya musim. Letaknya yang berada di lereng bukit, jauh dari jangkauan Danau Toba, sulit mendapatkan aliran air. Ketiadaan harapan mendorong pemuda desa untuk mengadu nasib di tanah perantauan.

Meski tekanan ekonomi semakin berat, banyak warga memilih bertahan di kampung halaman. Bagi masyarakat Batak, tanah bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah dan ikatan emosional kuat.

Sebagian pemuda akhirnya memilih merantau ke kota untuk bekerja sebagai buruh bangunan atau pekerja informal lainnya. Namun, hubungan mereka dengan kampung halaman tidak terputus. Dari perantauan, mereka bergotong royong mengumpulkan dana untuk membantu pembangunan pompa air tenaga surya bagi desa-desa di sekitar Danau Toba.

Foto: Kemarau panjang meninggalkan jejak nyata di mejameja pasar Samosir. Produksi sayur mayur dan cabai anjlok sepanjang 2025–2026, memukul para petani Ompu Ratus. Mereka harus menanggung kerugian akibat panen yang jauh dari harapan.

Upaya adaptasi mulai terlihat di sejumlah wilayah seperti Desa Sitinjak dan Desa Sibonor Ompu Ratus. Warga di kawasan yang lebih dekat dengan pesisir danau mulai memanfaatkan pompa air bertenaga surya untuk mengairi sawah.

Program tersebut merupakan bagian dari pengembangan energi terbarukan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga pembangunan rendah karbon. Panel surya digunakan untuk menghasilkan listrik yang menggerakkan pompa air dari danau menuju lahan pertanian warga.

Meski demikian, tantangan masih besar. Kondisi tanah yang berpasir membuat air cepat meresap sebelum mencapai seluruh area sawah. Distribusi air pun belum merata dan masih terbatas pada wilayah tertentu.

Namun bagi para petani, kehadiran pompa air telah menghadirkan harapan baru. Lahan yang sebelumnya kering mulai kembali bisa ditanami. Petani perlahan mampu menentukan jadwal tanam dan panen dengan lebih pasti, tanpa sepenuhnya bergantung pada hujan.

Di tengah perubahan iklim, masyarakat juga mulai menghidupkan kembali tradisi kebersamaan sebelum musim tanam. Doa-doa bersama yang dahulu menjadi bagian budaya agraris Batak kini kembali dilakukan, baik melalui tradisi adat maupun kebaktian gereja.

Foto: Di tengah krisis air yang melanda, teknologi menawarkan secercah harapan. Kini, di Desa Sinaga Uruk Pandiangan panel surya menggerakkan pompa air, mengalirkan kehidupan ke lahanlahan pertanian dalam radius satu kilometer. Peranti ini menjadi jembatan antara matahari dan bumi yang lama dahaga.

Meski teknologi mulai hadir di sawah dan ladang, warga menyadari solusi tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan krisis air. Banyak desa masih menunggu akses serupa, sementara proses pembangunan infrastruktur kerap terkendala persoalan lahan dan kesepakatan antar warga.

Warga kini juga mulai memikirkan strategi jangka panjang, seperti penampungan air hujan untuk menghadapi musim kemarau yang semakin panjang.

Perjuangan masyarakat di kawasan Kaldera Toba menunjukkan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, budaya, dan masa depan desa-desa adat. Di tengah perubahan alam yang semakin ekstrem, warga terus berupaya menjaga keseimbangan antara teknologi, tradisi, dan kelestarian tanah leluhur mereka.

 

(Lie)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pengembalian TKD Terbesar Rp6 Triliun Diterima Sumut, Juga Penyumbang Hibah Terbesar Rp260 Miliar

26 Mei 2026 - 07:32 WIB

Paya Bakung United Siap Hadapi Liga 4 Piala Presiden – Imbang Lawan Timor Leste U19

26 Mei 2026 - 07:04 WIB

Pemkab Deli Serdang Tekankan Sinergi Agar Pengosongan Lahan Bendungan Lau Simeme Berjalan Tertib

26 Mei 2026 - 06:49 WIB

Viral! Dugaan Pungli Uang Perpisahan di SDN 02 Cirendeu Terungkap

25 Mei 2026 - 19:34 WIB

Pemkab Deli Serdang Jelaskan 8 Ranperda: Aset, Pajak, Pesantren, hingga Pemekaran Kecamatan

25 Mei 2026 - 18:35 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan