Radargempita.co.id, – Fenomena hikikomori yang selama ini identik dengan Jepang kini mulai ditemukan di Indonesia.
Kondisi yang ditandai dengan penarikan diri ekstrem dari kehidupan sosial itu mendapat perhatian para peneliti dan praktisi kesehatan mental, terutama setelah kasus serupa mulai teridentifikasi di sejumlah daerah.

Hikikomori pertama kali dikenal di Jepang sebagai kondisi ketika seseorang memilih mengurung diri dalam waktu lama dan memutus hubungan dengan lingkungan sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama pascapandemi COVID-19, fenomena tersebut dilaporkan mulai muncul di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Temuan mengenai hikikomori di Indonesia terekam dalam studi berjudul Hikikomori Phenomenon in a Cultural Context: A Case Study on Extreme Social Isolation in Indonesia yang ditulis Silvia Azzahra dan Mustafa M. Amin dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Makalah yang dipublikasikan dalam Proceedings of the 8th International Conference on Neuroscience, Neurology, and Psychiatry 2025 (ICONAP 2025) itu menyoroti kasus seorang pemuda berusia 22 tahun di Jakarta yang menarik diri dari lingkungan sosial selama 18 bulan setelah berhenti dari pelatihan vokasi.
Peneliti mengungkapkan, pemuda tersebut menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam kamar dengan komunikasi yang sangat minim, bahkan untuk kebutuhan dasar. Ia juga sepenuhnya bergantung pada orang tua dan hanya aktif dalam kegiatan daring secara individual.
“Isolasi sosial ekstrem ini melibatkan pemutusan semua hubungan pertemanan sebelumnya dan hanya terlibat dalam aktivitas daring yang dilakukan sendirian,” tulis peneliti dalam studi tersebut, dikutip Nationalgeographic.co.id, Senin (12/05).
Peneliti juga mencatat adanya perubahan perilaku berupa meningkatnya sikap tertutup, kesedihan, kehilangan minat, serta kelelahan. Meski tidak ditemukan riwayat gangguan psikiatri sebelumnya, kondisi tersebut dinilai mengarah pada diagnosis hikikomori yang kemungkinan diperparah depresi.
Mereka menyimpulkan bahwa hikikomori kini bukan lagi persoalan yang hanya terjadi di Jepang, melainkan telah berkembang menjadi tantangan global, termasuk di Indonesia.
Media Sosial dan Tekanan Sosial Jadi Pemicu
Fenomena isolasi sosial pada remaja juga disorot dalam studi lain berjudul The Phenomenon of Social Isolation: The Role of Social Media in the Self-Isolation Tendencies of Adolescents in Bengkulu Province yang ditulis peneliti Universitas Bengkulu, Muhammad Oktarianto, Rasianna BR Saragih, dan Neneng Cucu Marlina.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Satwika: Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial pada April 2025 itu mengkaji hubungan penggunaan media sosial dengan kecenderungan isolasi sosial pada remaja di Provinsi Bengkulu.
Hasil penelitian menunjukkan komentar negatif di media sosial menjadi faktor dominan yang memicu tindakan isolasi sosial. Selain itu, faktor internal seperti kondisi psikologis, perspektif individu, dan intensitas penggunaan media sosial turut memperkuat kecenderungan tersebut.
Kecemasan Tingkatkan Risiko Hikikomori
Sementara itu, studi kolaborasi peneliti Indonesia dan Malaysia bertajuk Gender, Anxiety, and Depression in Connection to Hikikomori mengungkap kecemasan menjadi salah satu faktor risiko utama hikikomori di Indonesia.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Media Kesehatan Masyarakat Indonesia pada 2025 itu melibatkan 60 pasien depresi yang menjalani pengobatan di Poliklinik Kesehatan Mental sebuah rumah sakit di Lombok Barat.
Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan tingkat kecemasan sedang hingga berat memiliki risiko lima kali lebih tinggi mengalami hikikomori. Peneliti juga menemukan pasien perempuan memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar berisiko mengalami hikikomori dibanding laki-laki.
Selain itu, pasien dengan depresi tingkat sedang hingga berat tercatat memiliki risiko 2,83 kali lebih tinggi mengalami kondisi serupa. Meski demikian, peneliti menilai hubungan antara jenis kelamin dan depresi terhadap hikikomori masih memerlukan penelitian lanjutan karena belum signifikan secara statistik.
Peneliti menegaskan pemahaman mengenai hubungan kecemasan, depresi, dan hikikomori penting untuk menyusun intervensi kesehatan mental yang lebih tepat sasaran di Indonesia.
Pakar Minta Kesadaran Publik Ditingkatkan
Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Kampus Madiun, Chaterina Yeni Susilaningsih, menilai prevalensi hikikomori di Indonesia masih belum sepenuhnya dipahami sehingga membutuhkan penelitian lebih mendalam.
Menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran terhadap masalah kesehatan mental, khususnya isolasi sosial ekstrem.
“Hikikomori di Indonesia dapat dipicu tekanan sosial, kesulitan beradaptasi dengan tuntutan masyarakat, kegagalan memenuhi ekspektasi, hingga masalah kesehatan mental,” ujarnya seperti dikutip dari RRI Madiun.
Chaterina menegaskan hikikomori tidak boleh dianggap sepele karena berdampak serius bagi individu maupun lingkungan sosial. Individu yang mengalami hikikomori rentan mengalami depresi, kecemasan, rendah diri, serta kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat.
Dalam skala lebih luas, kondisi tersebut juga dapat memicu masalah ekonomi dan sosial, mulai dari meningkatnya beban finansial keluarga hingga menurunnya produktivitas akibat kesulitan memperoleh pekerjaan.
Ia menekankan penanganan hikikomori membutuhkan keterlibatan keluarga, pendidikan kesehatan mental, serta peningkatan akses layanan kesehatan jiwa agar individu berisiko dapat memperoleh pendampingan yang memadai.
(Lie)












