Radargempita.co.id
Ragam, – Kecelakaan maut yang melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4/2026), menelan sedikitnya 14 korban jiwa dan menyebabkan 84 orang lainnya luka-luka.

Seluruh korban meninggal dilaporkan perempuan, seiring posisi gerbong khusus perempuan yang menjadi titik terdampak paling parah dalam insiden tersebut.
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya aspek keselamatan penumpang, termasuk pemilihan posisi duduk dan pemahaman situasi perjalanan.
Meski kecelakaan kereta tergolong jarang, sejumlah kajian dan pendapat ahli menunjukkan bahwa langkah preventif sederhana dapat meningkatkan peluang keselamatan.

Foto: Istimewa
Berikut lima strategi yang dapat diterapkan penumpang:
1. Pilih gerbong bagian tengah
Sejumlah pakar keselamatan transportasi menyarankan penumpang memilih gerbong tengah. Dalam banyak kasus tabrakan, kerusakan paling parah terjadi di bagian depan atau belakang rangkaian kereta, sehingga posisi tengah relatif lebih aman.
2. Prioritaskan kursi dekat lorong
Duduk di kursi dekat lorong dinilai lebih aman dibandingkan di dekat jendela. Selain memudahkan evakuasi, posisi ini juga mengurangi risiko cedera akibat pecahan kaca saat terjadi benturan.
3. Duduk menghadap arah berlawanan laju kereta Jika tersedia, posisi duduk menghadap belakang dapat membantu mengurangi risiko terlempar ke depan saat terjadi tabrakan mendadak. Tubuh penumpang cenderung tertahan oleh sandaran kursi.
4. Pahami rute dan informasi perjalanan
Penelitian dalam jurnal Applied Ergonomics (April 2021) menekankan pentingnya pemahaman rute stasiun dan perjalanan. Minimnya informasi atau kebingungan penumpang dapat meningkatkan risiko insiden seperti terpeleset, tersandung, atau jatuh.
5. Gunakan pendamping, terutama bagi penumpang baru
Bagi penumpang yang baru pertama kali menggunakan layanan kereta, disarankan bepergian dengan pendamping. A
lternatif lain, penumpang dapat aktif meminta bantuan kepada petugas stasiun atau awak kereta untuk memastikan perjalanan lebih aman.
Tragedi Bekasi Timur menjadi pengingat bahwa keselamatan bukan hanya tanggung jawab operator, tetapi juga membutuhkan kesadaran penumpang. Edukasi yang tepat dan kesiapsiagaan individu menjadi kunci dalam meminimalkan risiko di tengah mobilitas transportasi massal yang kian tinggi.
(Redaksi)












