Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Teuku Markam: Antara Jasa, Politik, dan Sejarah yang Perlu Diluruskan

badge-check


					Teuku Markam: Antara Jasa, Politik, dan Sejarah yang Perlu Diluruskan Perbesar

Radargempita.co.id

Sejarah, — Monumen Nasional (Monas) bukan sekadar ikon Ibu Kota. Di balik lidah api yang menjadi simbol semangat perjuangan bangsa, tersimpan kisah tentang kontribusi sejumlah pihak dalam perjalanan pembangunannya, termasuk nama Teuku Markam, pengusaha asal Aceh yang dikenal dekat dengan Presiden Soekarno.

Teuku Markam kerap disebut sebagai salah satu tokoh yang menyumbangkan emas untuk pelapisan lidah api Monas. Sejumlah sumber populer menyebut kontribusinya mencapai 28 kilogram emas, dari sekitar 38 kilogram emas yang digunakan pada awal pelapisan. Namun, angka dan rincian mengenai asal-usul seluruh emas Monas perlu ditempatkan secara hati-hati karena terdapat perbedaan keterangan dalam berbagai sumber sejarah.

Markam dikenal sebagai pengusaha besar pada era Presiden Soekarno. Melalui jaringan bisnisnya, ia terlibat dalam berbagai kegiatan perdagangan dan disebut memiliki kedekatan dengan sejumlah proyek pembangunan pada masa itu. Kedekatannya dengan pemerintahan Soekarno kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya ketika terjadi perubahan politik nasional setelah 1965.

Memasuki masa Orde Baru, kehidupan Teuku Markam berubah drastis. Ia ditangkap dan menjalani masa penahanan selama bertahun-tahun. Aset dan kegiatan usahanya juga mengalami perubahan besar. Berbagai tuduhan terhadap dirinya menjadi bagian dari dinamika politik pada masa tersebut.

Namun, menyebut seluruh tuduhan itu sebagai fitnah tanpa proses pembuktian sejarah yang memadai juga perlu dihindari. Demikian pula, narasi bahwa seluruh hartanya semata-mata “dirampas” negara membutuhkan penelusuran dokumen sejarah dan hukum agar pemberitaan tetap berimbang.

Setelah bebas, kehidupan Markam tidak kembali seperti sebelumnya. Ia berupaya memperjuangkan hak dan memulihkan nama baik serta aset yang menurut sejumlah catatan pernah dimilikinya. Teuku Markam kemudian meninggal dunia pada 1985.

Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk hitam dan putih. Di satu sisi terdapat catatan mengenai kontribusi dan kiprahnya dalam kehidupan ekonomi serta pembangunan pada masa awal republik. Di sisi lain, terdapat persoalan politik, penahanan, perubahan kepemilikan aset, dan stigma yang membutuhkan kajian berdasarkan arsip serta bukti sejarah.

Pelajaran penting dari kisah Teuku Markam bukan sekadar tentang emas di puncak Monas, melainkan tentang pentingnya menjaga keadilan, menghormati jasa seseorang, sekaligus memastikan setiap tuduhan sejarah diuji berdasarkan fakta.

Monas tetap berdiri sebagai simbol perjuangan bangsa. Sementara kisah Teuku Markam mengajarkan bahwa di balik sebuah monumen nasional, terdapat manusia, kontribusi, konflik, dan perjalanan sejarah yang tidak boleh disederhanakan. Sejarah bukan hanya tentang siapa yang dikenang, tetapi juga tentang bagaimana kebenaran ditemukan, diverifikasi, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

 

(Red/Perpusnas)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sambut HUT ke-70, SUCOFINDO dan ABPEDNAS Resmikan Sumur Air Bersih di Kepulauan Riau

29 Agustus 2026 - 22:14 WIB

Sambut HUT ke-81 RI, BRI BO Pluit Semarakkan Kantor dengan Dekorasi Nuansa Merah Putih

29 Agustus 2026 - 21:08 WIB

Koramil 05/Kebon Jeruk Gandeng Puskesmas, Warga Dapat Layanan Kesehatan Gratis

29 Agustus 2026 - 12:47 WIB

Komsos Tiga Pilar Perkuat Koordinasi dan Kewaspadaan Warga Sukabumi Utara

29 Agustus 2026 - 12:38 WIB

Darurat Sampah, Satgas Bergerak Bersihkan Jalan Daud Sukabumi Utara

29 Agustus 2026 - 12:27 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan