Radargempita.co.id
Sejarah, – Peristiwa reorganisasi besar di tubuh TNI pada dekade 1980-an menjadi salah satu momen emosional dalam sejarah pasukan elite Indonesia. Salah satu kisah yang paling dikenang adalah saat Kolonel Inf Tarub harus melepas Baret Merah Kopassus dan mengenakan Baret Hijau Kostrad dalam prosesi alih status satuan di Kariango, Sulawesi Selatan.

Kala itu, pemerintah dan TNI melakukan penataan organisasi yang berdampak pada sejumlah satuan, termasuk Kopassus. Meski berbagai argumentasi diajukan untuk mempertahankan kekuatan pasukan, kebijakan perampingan tetap dijalankan. Salah satu konsekuensinya adalah perubahan status Brigif Linud Kopassus di Kariango menjadi Brigif Linud 3/Kostrad.
Upacara pergantian baret digelar di markas satuan Kariango. Seluruh prajurit yang hadir awalnya mengenakan Baret Merah, simbol kebanggaan Korps Baret Merah. Setelah prosesi resmi selesai, mereka secara bergantian menundukkan kepala dan mengganti baret yang dikenakan dengan Baret Hijau Kostrad.
Mantan Komandan Kopassus, Letjen TNI (Purn) Tarub, mengakui bahwa proses tersebut merupakan pengalaman yang sangat berat. Ia mengaku sedih harus menyaksikan prajurit-prajurit yang selama ini dibinanya beralih status ke satuan baru.
“Saya sedih sekali. Anak-anak buah ini betul-betul saya sayangi. Tetapi negara mengatakan ini harus dilaksanakan,” kenang Tarub sebagaimana dikutip dalam buku Kopassus untuk Indonesia.
Tarub kemudian dipercaya menjadi komandan pertama Brigif Linud 3/Kostrad. Dalam kapasitas tersebut, ia berupaya menjaga semangat dan jiwa korsa para prajurit yang mengalami perubahan identitas satuan.
Menurutnya, meski mengenakan Baret Hijau, semangat keprajuritan yang dibangun selama bertugas di Kopassus tidak boleh luntur. Ia terus menanamkan nilai pantang menyerah, loyalitas, dan kebanggaan korps kepada seluruh anggota.
Momen paling mengharukan terjadi ketika Tarub sendiri menjalani prosesi pergantian baret. Perwira lulusan Akademi Militer 1965 itu meminta izin kepada Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno untuk berlutut saat Baret Merah yang dikenakannya dilepas.
Permintaan tersebut bukan tanpa alasan. Tarub mengaku dahulu menerima Baret Merah melalui prosesi sakral dengan berlutut di Pantai Selatan. Karena itu, ia merasa pelepasan simbol kehormatan tersebut juga harus dilakukan dengan cara yang sama.
“Dulu saya menerima Baret Merah dengan berlutut. Maka ketika dilepas, saya ingin melakukannya sambil berlutut juga,” ujar Tarub.
Try Sutrisno menyetujui permintaan tersebut. Prosesi yang berlangsung di Kariango itu meninggalkan kesan mendalam bagi para prajurit. Tarub mengenang banyak anggota yang tidak mampu menahan air mata saat pergantian baret berlangsung.
Meski demikian, ia terus memberikan motivasi kepada anak buahnya. Bagi Tarub, yang terpenting bukanlah warna baret yang dikenakan, melainkan semangat pengabdian yang tertanam dalam diri setiap prajurit.
“Baret itu tidak masalah, yang penting ada di dada dan jiwa kita. Semangat itulah yang harus tetap dijaga,” tuturnya.
Kisah tersebut menjadi salah satu catatan bersejarah tentang loyalitas, jiwa korsa, dan pengabdian prajurit TNI dalam menjalankan keputusan negara, meskipun harus mengorbankan ikatan emosional yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
(Redaksi)












