Radargempita.co.id
Sejarah, – Pascaperistiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) menjadi salah satu institusi yang menghadapi tekanan politik paling besar. Di tengah situasi tersebut, tersimpan kisah seorang perwira Wanita Angkatan Udara (Wara), Letnan II Udara Herdini, yang mendapat tugas rahasia menjemput Menteri/Panglima Angkatan Udara (Menpangau) Laksamana Madya Udara Omar Dani dari Phnom Penh, Kamboja, sebelum akhirnya sang panglima menjalani proses hukum di Indonesia.

Awal Gejolak Pada akhir September 1965, Herdini baru kembali ke Jakarta setelah menjalankan tugas memperkenalkan kiprah Wara di sejumlah daerah. Namun, situasi berubah drastis ketika pada 1 Oktober 1965 pecah peristiwa G30S.
Menurut penuturan Herdini, suasana di lingkungan AURI berubah tegang setelah beredar kabar mengenai kudeta. Sejak saat itu, personel AURI menghadapi berbagai bentuk kecurigaan di tengah memanasnya situasi politik nasional.
Sejumlah perwira AURI yang diduga terkait peristiwa tersebut kemudian diperiksa. Di saat yang sama, sorotan juga mengarah kepada Menpangau Omar Dani, yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu pejabat tinggi militer yang dekat dengan Presiden Soekarno.
Dari Phnom Penh ke Indonesia.

Foto: Istimewa
Di tengah perkembangan politik nasional, Omar Dani berangkat ke luar negeri pada pertengahan Oktober 1965 dalam rangka kunjungan yang telah ditugaskan Presiden Soekarno. Salah satu tujuan perjalanannya adalah Phnom Penh, Kamboja.
Setelah keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) dan perubahan konstelasi politik nasional, Omar Dani memiliki kesempatan untuk tetap berada di luar negeri. Namun, berdasarkan catatan dalam buku tersebut, ia memilih kembali ke Indonesia untuk menghadapi proses hukum.
Pada pertengahan April 1966, Herdini yang saat itu bertugas sebagai Perwira Intel menerima perintah dari Wakil Panglima Komando Operasi, Komodor Udara Soewondo, untuk berangkat ke Phnom Penh. Misinya adalah menjemput Omar Dani beserta keluarganya, termasuk istrinya, An, yang baru melahirkan anak kelima.
Setelah Omar Dani menyelesaikan kunjungan kehormatan kepada Pangeran Norodom Sihanouk, rombongan diterbangkan ke Indonesia menggunakan pesawat C-130 Hercules pada 20 April 1966.
Demi alasan keamanan, pesawat tidak mendarat di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, melainkan di Pangkalan Udara Semplak, Bogor. Dari sana, Omar Dani dan keluarganya dikawal menuju Kompleks Peristirahatan AURI di Cibogo.
Menjalani Proses Hukum
Sekitar satu bulan setelah tiba di Indonesia, Omar Dani ditahan di Rumah Tahanan Militer Nirbaya, Jakarta Timur.
Ia kemudian diadili melalui Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Pada Desember 1966, pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati. Namun, hukuman tersebut tidak pernah dieksekusi. Pada 1980, hukumannya diubah menjadi penjara seumur hidup.
Selama menjalani masa penahanan, keluarganya tetap mendampingi dari luar penjara. Pada Agustus 1995, Omar Dani memperoleh grasi sehingga dapat menghirup udara bebas setelah menjalani masa tahanan selama hampir tiga dekade.
Pertemuan yang Sarat Kenangan
Bertahun-tahun setelah bebas, Herdini kembali bertemu dengan mantan pimpinannya dalam sebuah reuni Wara Angkatan Pertama.
Dalam kesempatan itu, Herdini membawa dua foto lama saat dirinya dilantik sebagai anggota Wara pada 1963 dan meminta tanda tangan Omar Dani.
Melihat foto tersebut, Omar Dani, sebagaimana dikisahkan Herdini, tersenyum sambil berkata, “Wah, dari mana kamu dapat foto sebagus ini? Aku masih gagah, ya?” Kalimat sederhana itu menjadi pengingat akan masa ketika ia memimpin AURI sebelum perubahan politik mengubah jalan hidupnya.
Omar Dani wafat pada 24 Juli 2009 dan dimakamkan di Jakarta.
Kisah Herdini memperlihatkan sisi lain dari sejarah Indonesia pada masa transisi politik 1965–1966. Di balik dinamika politik nasional, terdapat pengalaman pribadi para prajurit yang menjalankan tugas negara di tengah perubahan kekuasaan. Kesaksian tersebut menjadi bagian dari mosaik sejarah yang memperkaya pemahaman mengenai salah satu periode paling menentukan dalam perjalanan bangsa.
(Red/Lie)













