Radargempita.co.id
JAKARTA, — Di balik lembaran arsip kolonial yang mencatat keberangkatan ribuan orang Jawa ke Suriname, tersimpan kisah manusia yang penuh perjuangan. Salah satunya adalah Bok Karnijah, perempuan asal Kedu, Jawa Tengah, yang pada 1925 meninggalkan tiga anaknya di tanah kelahiran dan berlayar ke Suriname dalam kondisi sedang mengandung.
Pada 5 Mei 1925, Karnijah tercatat berangkat dari Tanjung Priok menuju Suriname menggunakan kapal SS Blitar. Dalam catatan keberangkatan, ia berusia 27 tahun, beragama Islam, dan berasal dari Desa Djlegi, Distrik Koetowinangoen, Keboemen, Kedu.

Kepergian Karnijah bukan sekadar perjalanan melintasi lautan. Ia menjadi bagian dari arus migrasi buruh kontrak Jawa pada masa Hindia Belanda, ketika ribuan orang dari Jawa dikirim ke Suriname untuk bekerja di perkebunan.
Namun, di balik angka dan administrasi kolonial tersebut, terdapat kisah seorang ibu yang harus menghadapi keputusan berat: meninggalkan tiga anaknya di Jawa demi menjalani kehidupan baru di negeri yang berjarak ribuan kilometer dari kampung halaman.
Tiba di Suriname, Menjalani Hidup sebagai Buruh dan Ibu
Karnijah tiba di Paramaribo dan mulai menjalani kontrak kerjanya pada 17 Juni 1925. Ia kemudian ditempatkan di perkebunan Mariënbosch.
Kurang dari setahun kemudian, tepatnya 12 Juni 1926, putrinya, Toekijem, lahir di Mariënbosch. Di negeri yang jauh dari Jawa tersebut, Karnijah menjalani kehidupan sebagai pekerja sekaligus seorang ibu.
Kehidupan sebagai buruh perkebunan ternyata tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan yang dibawa dari tanah Jawa.
Sebelum keberangkatan, Karnijah disebut mendapat informasi mengenai upah sebesar 40 sen gulden Belanda per hari atau empat dubbeltjes. Setelah masa kontrak berakhir, pekerja juga dijanjikan pilihan untuk kembali ke Jawa atau, apabila menetap di Suriname, memperoleh sebidang tanah dan seekor kerbau.
Namun, pengalaman yang kemudian dijalani Karnijah menunjukkan kondisi berbeda.
Dalam keterangannya, ia menyebut hanya memperoleh sekitar satu sen untuk setiap kilogram kopi yang dipetik, bahkan terkadang kurang. Pekerjaan tersebut juga tidak ringan. Para pekerja harus berhadapan dengan kondisi perkebunan, termasuk gangguan semut ketika memetik kopi.
Persoalan lainnya adalah tidak adanya bukti tertulis yang dapat memperkuat sejumlah janji yang disampaikan sebelum keberangkatan.
Lima Tahun Menjalani Kontrak
Catatan kolonial mencatat masa kontrak Karnijah berlangsung sejak 17 Juni 1925 hingga 17 Mei 1930.
Setelah kontraknya berakhir, pada 14 Juni 1930, seorang pengawas bernama Eliazer melaporkan bahwa Bok Atmoredjo dapat memperoleh vrijpas, yakni surat bebas setelah menyelesaikan masa kontraknya.
Dokumen tersebut menjadi salah satu bagian dari jejak administratif Karnijah setelah masa kerja kontraknya berakhir.
Menariknya, keberadaan Karnijah masih tercatat dalam dokumen kolonial pada tahun-tahun berikutnya. Arsip juga mencatat premi yang diterimanya pada 1932.
Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan hidup Karnijah tidak berhenti pada catatan keberangkatan, kedatangan, dan kontrak kerja. Namanya terus muncul dalam berbagai administrasi yang merekam kehidupan masyarakat Jawa di Suriname.
Dari Buruh Kontrak Menjadi Bagian dari Diaspora Jawa
Setelah menyelesaikan masa kontraknya, Karnijah menjalani sebagian besar kehidupannya di tengah masyarakat Jawa-Suriname.
Putrinya, Toekijem, yang lahir di Mariënbosch pada 1926, tumbuh sebagai bagian dari generasi Jawa yang lahir dan berkembang di Suriname.
Puluhan tahun kemudian, pada 1987, sosok Karnijah kembali terdokumentasikan melalui sebuah foto. Perempuan muda berusia 27 tahun yang pernah meninggalkan Tanjung Priok pada 1925 telah berubah menjadi seorang perempuan lanjut usia.
Rentang waktu tersebut menggambarkan perjalanan hidup yang panjang—dari seorang perempuan muda yang meninggalkan Jawa, menjadi ibu bagi anak yang lahir di Suriname, hingga menjalani masa tua di tengah komunitas keturunan Jawa.
Karnijah tercatat meninggal dunia pada 20 April 1993 dalam usia 94 tahun.
Putrinya, Toekijem Atmoredjo, yang lahir pada 12 Juni 1926 di Mariënbosch, kemudian meninggal dunia pada 4 Juni 2004.
Bukan Sekadar Nama dalam Arsip
Kisah Mbah Karnijah tidak semata-mata tentang seorang buruh kontrak yang berangkat dari Jawa menuju Suriname.
Ia adalah gambaran tentang perjalanan seorang perempuan Jawa yang pada usia muda harus berpisah dari anak-anaknya, menyeberangi lautan dalam keadaan hamil, menghadapi kerasnya kehidupan perkebunan, kemudian membesarkan anak yang lahir di negeri asing.
Dari Tanjung Priok pada 1925, menuju Mariënbosch, hingga akhir hayatnya di Suriname, perjalanan Karnijah menjadi bagian dari sejarah panjang diaspora Jawa.
Sejarah migrasi sering kali dibaca melalui angka, kapal, perkebunan, kontrak, dan dokumen administrasi. Namun, di balik setiap catatan tersebut terdapat manusia—dengan keluarga yang ditinggalkan, harapan yang dibawa, serta perjuangan yang harus dijalani.
Mbah Karnijah adalah salah satu dari sekian banyak nama yang mengingatkan bahwa sejarah diaspora Jawa bukan hanya tentang perpindahan penduduk, melainkan tentang manusia yang membawa kehidupan, keluarga, budaya, dan harapan dari Jawa ke tanah yang jauh.
(Red)













