Radargempita.co.id
Pojok Berita, — Pengalaman pahit musisi Indra dalam menghadapi kecanduan narkoba menjadi gambaran bagaimana rasa ingin tahu dan ajakan lingkungan dapat berkembang menjadi ketergantungan yang sulit dikendalikan.
Kisah ini terinspirasi pernah dimuat Majalah Intisari edisi April 2006. Saat masih bergabung dengan grup musik Slank, Indra mengaku pertama kali mengenal putaw setelah seorang tamu studio membawa serbuk putih yang disebut sebagai putaw.

Ajakan tersebut membuat Indra tertarik mencoba. Pada penggunaan pertama, ia justru mengalami muntah. Namun, setelah beberapa kali mengonsumsi, ia mulai merasakan efek yang menurutnya membuat tubuh terasa ringan, mengantuk, dan ingin terus tidur.

Foto: Istimewa
Sekitar sepekan kemudian, kondisi tubuhnya memburuk. Ia mengalami demam dan tidak kunjung membaik meski mengonsumsi obat yang dibeli di warung. Dalam kondisi tersebut, seorang temannya memberikan rokok yang ternyata dicampur putaw.
Saat itulah Indra menyadari dirinya mulai mengalami gejala sakau atau putus zat.
“Di situlah saya tahu, saya sakaw. Rupanya, rokok itu dicampur putaw. Besoknya, saya beli lagi supaya badan tak sakit. Mula-mula sedikit, lama-lama dosisnya naik,” kata Indra seperti dikutip dari Majalah Intisari edisi April 2006, pada Rabu (26/08).
Ketergantungan tersebut kemudian berdampak luas terhadap kehidupannya. Meski saat itu karier musiknya bersama Slank tengah berada pada masa sukses, Indra mengaku banyak hartanya habis untuk memenuhi ketergantungan terhadap narkoba, termasuk sabu dan putaw. Kondisi fisiknya pun semakin memburuk hingga beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit dan sempat mengalami koma.

Foto: Istimewa
Titik balik terjadi ketika ibunya mengingatkan bahwa rumah keluarga terancam dijual jika biaya pengobatan terus membengkak.
Ucapan tersebut membuat Indra tersadar. Ia mulai merasa bersalah dan bertekad keluar dari ketergantungan narkoba.
“Saya enggak rela, sebab rumah itu homey banget. Menyenangkan sekali kalau pulang ke rumah itu. Tiba-tiba saya merasa bersalah. Saya enggak mau begini terus. Saya mau melepaskan diri dari kecanduan,” ujarnya.
Indra juga menyadari bahwa obat dari dokter yang dikonsumsinya saat itu bukanlah jalan keluar dari ketergantungan. Menurut pengakuannya, obat tersebut lebih banyak membantu meningkatkan daya tahan tubuh ketika menghadapi kondisi putus zat.
Ia kemudian bertekad menghentikan ketergantungan tersebut, meski harus menghadapi berbagai gejala sakau.
Dalam prosesnya, Indra mengaku mengalami meriang, gangguan lambung, batuk, kegelisahan, serta dorongan kuat untuk kembali menggunakan narkoba. Ia mengatakan nasihat ibunya untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menghadapi masa sulit tersebut.
Tantangan lain muncul ketika ia bertemu dengan sesama pengguna narkoba. Situasi tersebut memunculkan kembali keinginan untuk menggunakan narkoba.
“Tarikan nostalgia, hawa kepingin pakai lagi gede banget. Bila keinginan itu datang, saya langsung salat. Kuncinya, menyerahkan diri total dengan berdoa,” tuturnya.
Untuk menjauh dari lingkungan yang berpotensi memicu kekambuhan, Indra berusaha membangun lingkungan pergaulan baru. Ia memilih berkumpul dengan teman-teman yang dinilainya memberikan pengaruh positif, termasuk teman-teman berlatar belakang pendidikan pesantren.
Pengalaman kehilangan sejumlah teman akibat narkoba semakin memperkuat tekadnya untuk keluar dari ketergantungan.
Indra juga mengakui bahwa penggunaan narkoba telah memengaruhi kepribadian dan kesadarannya.
“Kepribadian saya berubah total akibat otak yang terkontaminasi zat adiktif. Sejak mengonsumsi narkoba, saya enggak pernah dalam keadaan sadar,” katanya.
Dari pengalaman tersebut, Indra menilai keberhasilan pemulihan dari ketergantungan narkoba tidak hanya membutuhkan penanganan medis, tetapi juga kemauan kuat dari orang yang menjalani proses pemulihan serta dukungan lingkungan.
“Sebaik apa pun terapi narkoba, jangan harap bisa sembuh kalau dalam diri seseorang tidak ada motivasi kuat untuk sembuh,” ujarnya.
Kisah Indra menjadi pengingat bahwa narkoba bukan sekadar persoalan gaya hidup atau pergaulan, melainkan persoalan serius yang dapat merusak kesehatan, kondisi psikologis, hubungan keluarga, karier, serta masa depan seseorang.
Karena itu, pencegahan sejak dini, keberanian menolak ajakan menggunakan narkoba, dukungan keluarga, lingkungan yang sehat, dan akses terhadap rehabilitasi profesional menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai kecanduan.
(Red)













