Radargempita.co.id
Jakarta, – Kawasan Senayan dan Tebet yang kini menjadi bagian penting dari denyut kehidupan ibu kota pernah menyimpan wajah yang sangat berbeda. Pada dekade 1950-an, Senayan masih didominasi perkampungan Betawi yang asri dan dipenuhi pepohonan buah, sementara Tebet masih berupa kawasan hutan belukar dan rawa.

Kisah tersebut terekam dalam pengalaman masa kecil Rachmat yang pertama kali dipublikasikan dalam Majalah Intisari edisi Juni 1990. Melalui kesaksiannya, tergambar kehidupan masyarakat Jakarta sebelum pembangunan besar-besaran mengubah lanskap kota.
Rachmat menceritakan bahwa kakek dan neneknya yang berasal dari Garut menetap di kawasan Senayan sejak awal 1950-an. Kakeknya bekerja sebagai penjaga malam di sebuah gudang peralatan milik instansi pemerintah, sekaligus menjalankan usaha mebel dari rumah yang berlokasi di sekitar Bundaran Senayan.

Foto: Istimewa
Pada masa itu, transportasi di kawasan Senayan dan Kebayoran Baru masih didominasi delman dan gerobak kuda. Kendaraan bermotor belum banyak digunakan, sementara opelet bermerek Austin menjadi salah satu moda transportasi antarkota yang populer.
Bundaran Senayan, yang kini dikenal sebagai lokasi berdirinya Patung Pemuda, dahulu merupakan pusat aktivitas ekonomi warga yang dikenal sebagai Pasar Bundaran. Pasar tersebut ramai hingga larut malam dengan pedagang buah-buahan dan makanan yang menjadi tujuan warga sekitar.
Selain aktivitas perdagangan, radio menjadi simbol kemewahan pada era itu. Rachmat mengenang hanya sedikit warga yang memiliki radio, termasuk kakeknya yang menggunakan radio merek Grundig. Setiap malam Minggu, rumah keluarganya kerap dipenuhi tetangga yang berkumpul mendengarkan siaran wayang golek dari Radio Republik Indonesia.
Pertunjukan semakin diminati ketika dibawakan oleh dalang legendaris Partasuanda bersama pesinden terkenal Upit Sarimanah atau Titin Fatimah.
Momen keagamaan juga menjadi bagian penting kehidupan warga. Saat Idulfitri, masyarakat Senayan melaksanakan salat bersama di Masjid Agung Al Azhar yang hingga kini masih menjadi salah satu ikon Jakarta Selatan.
Perubahan besar terjadi menjelang pelaksanaan Asian Games 1962. Pada 1959, warga Senayan direlokasi untuk memberi ruang bagi pembangunan kompleks olahraga yang akan digunakan dalam pesta olahraga terbesar Asia tersebut.
Sebagai kompensasi, banyak warga memperoleh lahan pengganti di kawasan Tebet dan Simprug yang saat itu masih berupa rawa, semak belukar, serta lahan yang belum berkembang. Keluarga Rachmat termasuk di antara warga yang dipindahkan ke Tebet.
Pada tahun-tahun awal relokasi, permukiman di Tebet masih sangat jarang. Rumah-rumah penduduk terpisah oleh hamparan alang-alang dan pepohonan. Seiring waktu, kawasan tersebut mulai berkembang dan dihuni lebih banyak keluarga.
Salah satu tetangga yang masih diingat Rachmat adalah keluarga aktris terkenal Citra Dewi. Menurutnya, hanya keluarga Citra Dewi yang memiliki mobil pribadi di lingkungan tersebut, yakni Fiat 1100 berwarna putih.
Masa kecil Rachmat juga diwarnai petualangan menjelajahi kawasan yang kini menjadi pusat bisnis Jakarta. Bersama teman-temannya, ia kerap berjalan hingga kawasan Jembatan Semanggi untuk mencari jangkrik. Saat itu, koridor Jalan Jenderal Gatot Subroto masih lengang dan belum dipenuhi gedung pencakar langit seperti sekarang.
Sebagai penanda perjalanan, mereka sering menjadikan Gedung GKBI sebagai patokan. Pada masanya, gedung tersebut termasuk bangunan yang paling menonjol di kawasan tersebut karena jumlah gedung bertingkat masih sangat terbatas.
Pada 1964, Rachmat harus meninggalkan Tebet untuk mengikuti orang tuanya pindah ke Tanjung Pinang. Namun, kenangan tentang Senayan yang hijau, Tebet yang masih belantara, dan Semanggi yang menjadi tempat bermain anak-anak tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Jakarta tempo dulu.
(Red)












