Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Jejak Mayor (Purn.) Dr. Abu Arifin, Pengawal Soedirman yang Terimbas Gejolak Politik Pasca-1965

badge-check


					Jejak Mayor (Purn.) Dr. Abu Arifin, Pengawal Soedirman yang Terimbas Gejolak Politik Pasca-1965 Perbesar

Radargemoita.co.id

Pojok Berita, – Di balik sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terdapat banyak sosok pejuang yang tidak sepopuler para tokoh utama, tetapi memiliki kontribusi besar bagi republik. Salah satunya adalah Mayor (Purn.) Dr. Abu Arifin, mantan pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman yang juga pernah bertugas dalam pengamanan Presiden Soekarno. Perjalanan hidupnya mencerminkan dinamika perjuangan bangsa, sekaligus menunjukkan bagaimana perubahan politik pasca-Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 berdampak pada kehidupan sebagian mantan pejuang.

Pada 1946, Abu Arifin bergabung dengan Batalyon Mobile Polisi Tentara, salah satu embrio satuan yang kemudian berkembang menjadi Korps Polisi Militer (CPM). Satuan tersebut dibentuk untuk menjalankan fungsi penegakan disiplin militer sekaligus pengamanan terhadap pimpinan negara dan angkatan perang pada masa revolusi kemerdekaan. Dalam berbagai sumber sejarah, satuan ini beranggotakan personel pilihan yang mengemban tugas strategis di tengah situasi perang mempertahankan kemerdekaan.

Foto: Istimewa (Perpusnas)

Dalam pelaksanaan tugasnya, personel batalyon ditempatkan pada beberapa kompi dengan tanggung jawab berbeda. Abu Arifin mengawali pengabdiannya di Kompi I yang bertugas mengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman. Dalam perjalanan kariernya, ia juga dipercaya menjalankan tugas pengamanan Presiden Soekarno dalam kurun waktu tertentu sebelum kembali mendampingi Jenderal Soedirman.

Sebagai pengawal Panglima Besar, Abu Arifin ikut menyertai berbagai perjalanan gerilya Jenderal Soedirman ketika memimpin perlawanan terhadap Agresi Militer Belanda. Ia menyaksikan secara langsung perjuangan berat sang panglima yang, meski berada dalam kondisi kesehatan yang menurun, tetap memimpin perang gerilya demi mempertahankan eksistensi Republik Indonesia. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya kepada bangsa.

Foto: Istimewa (Perpusnas)

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dan wafatnya Jenderal Soedirman pada 1950, para pengawalnya ditempatkan di berbagai satuan sesuai kebutuhan organisasi militer. Abu Arifin kemudian melanjutkan pengabdiannya hingga akhirnya memilih pensiun dini pada 1964 dan menetap bersama keluarganya di Semarang. Istrinya, Sutari, diketahui bekerja di lingkungan Balai Latihan Kerja Dinas Tenaga Kerja.

Situasi berubah drastis setelah meletusnya Peristiwa G30S pada 1965. Masa transisi politik yang berlangsung setelah peristiwa tersebut diwarnai penangkapan, penyelidikan, dan tindakan terhadap banyak orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) maupun pihak-pihak yang dianggap memiliki kedekatan politik dengan Presiden Soekarno. Sejumlah kajian sejarah mencatat bahwa pada masa itu terdapat banyak korban yang mengalami penahanan tanpa melalui proses peradilan yang memadai.

Dalam situasi tersebut, Abu Arifin mengaku turut menjadi sasaran kecurigaan. Merasa tidak terlibat dalam peristiwa tersebut, ia memilih meninggalkan Semarang untuk menghindari penangkapan dan sempat berpindah ke Tanjung Karang, Lampung, kemudian ke Jambi. Sementara itu, istrinya ditangkap dan menjalani penahanan selama hampir satu tahun di Penjara Bulu, Semarang. Menurut penuturan keluarga, penahanan tersebut berlangsung tanpa proses persidangan, dan tuduhan yang dialamatkan kepada mereka tidak pernah terbukti secara hukum.

Dampak situasi politik saat itu juga dirasakan keluarga besarnya. Sejumlah kerabat dikabarkan mengalami penahanan, pengasingan, maupun hilang dalam pusaran konflik politik pada masa awal Orde Baru. Abu Arifin sendiri kehilangan berbagai hak sebagai veteran, termasuk hak pensiun serta sebagian harta bendanya.

Foto: Istimewa (Perpusnas)

Meski menghadapi berbagai tekanan, Abu Arifin memilih melanjutkan hidup melalui jalur pengabdian yang berbeda. Ia kemudian menjadi pendeta dan aktif memberikan pelayanan rohani kepada masyarakat. Dari kediamannya di Purbalingga, ia turut mengajar di Sekolah Tinggi Teologi serta membimbing warga binaan di sejumlah lembaga pemasyarakatan melalui kegiatan keagamaan.

Memasuki era Reformasi, perhatian terhadap nasib para korban pelanggaran hak asasi manusia dan dinamika politik pasca-1965 semakin berkembang. Dalam konteks tersebut, pengabdian Abu Arifin sebagai veteran pejuang kembali memperoleh perhatian. Pada 2013, di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia menerima hibah rumah sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya sebagai pejuang kemerdekaan.

Di usia senjanya, Abu Arifin memilih menutup perjalanan hidupnya dengan sikap memaafkan. Ia lebih memilih mengabdikan sisa hidupnya untuk pelayanan dan pendidikan dibanding memelihara dendam atas pengalaman masa lalu. Salah satu harapannya adalah menyelesaikan sebuah buku yang merekam perjalanan hidupnya, mulai dari mendampingi Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam perang kemerdekaan hingga menghadapi dinamika politik Indonesia setelah 1965.

Kisah Mayor (Purn.) Dr. Abu Arifin menjadi bagian dari mozaik sejarah Indonesia yang menunjukkan bahwa perjuangan seorang prajurit tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga ketika menghadapi perubahan politik yang penuh tantangan. Pengalaman hidupnya sekaligus mengingatkan pentingnya memahami sejarah secara utuh, berdasarkan fakta, kesaksian, dan kajian yang berimbang, agar setiap pengabdian kepada bangsa dapat ditempatkan dalam konteks sejarah yang proporsional.

 

(Lie)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemuda Bergerak, Desa Bergema! Karang Taruna Buntu Bedimbar Tunjukkan Peran Besar di Gebyar AKBAR

30 Agustus 2026 - 23:05 WIB

Sambut HUT ke-81 RI, BRI BO Rawamangun Semarakkan Kantor dengan Dekorasi Nuansa Merah Putih

30 Agustus 2026 - 22:51 WIB

Area Otista Raih Juara 2 Sportartcular BRI Region 6 Cabang Voli

30 Agustus 2026 - 22:48 WIB

UMKM Binaan BRI Region 6 Antusias Ramaikan Festival Semarak Merah Putih di Pasar Malaka Rorotan

30 Agustus 2026 - 22:44 WIB

BRI BO Otista Raih Juara 1 BRILiaN DekorAksi 2026 Tingkat Region 6

30 Agustus 2026 - 22:41 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan