Radargempita.co id
Sejarah, – Jika melintas di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, masyarakat dapat melihat sebuah monumen yang menjadi salah satu penanda penting sejarah perjuangan Indonesia, yakni Monumen Pembebasan Irian Barat.
Monumen tersebut menampilkan sosok pria dengan tubuh kekar yang digambarkan tengah memutus rantai. Rangkaian visual itu menjadi simbol pembebasan Irian Barat dari kekuasaan kolonial Belanda.

Di balik gagasan tersebut terdapat sosok Johannes Abraham Dimara, putra Papua yang dikenal sebagai salah satu tokoh dalam perjuangan mempertahankan dan memperjuangkan integrasi Irian Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dimara lahir di Korem, Biak Utara, Papua, pada 16 April 1916. Perjuangannya berlangsung dalam situasi politik yang penuh ketegangan, ketika status Irian Barat menjadi salah satu persoalan utama hubungan Indonesia dan Belanda setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Pada 1954, Dimara terlibat dalam operasi penyusupan ke wilayah Papua yang saat itu masih berada di bawah pemerintahan Belanda. Dalam operasi tersebut, ia dan kelompoknya berupaya mengibarkan Merah Putih serta membangun dukungan masyarakat setempat terhadap perjuangan integrasi dengan Indonesia.
Namun, operasi tersebut berakhir dengan penangkapan. Dimara kemudian menjalani masa tahanan dan mengalami penderitaan selama berada dalam penahanan kolonial, termasuk di kawasan Boven Digoel.
Pengalaman tersebut tidak menghentikan perjuangannya. Setelah bebas, Dimara kembali terlibat dalam perjuangan politik dan diplomasi Indonesia terkait persoalan Irian Barat.
Pada 1962, ia turut hadir dalam rangkaian diplomasi Indonesia di tingkat internasional. Kehadiran Dimara sebagai putra Papua menjadi bagian dari upaya Indonesia menunjukkan bahwa persoalan Irian Barat bukan semata-mata persoalan politik antarnegara, tetapi juga berkaitan dengan aspirasi dan masa depan masyarakat Papua.
Sosok Dimara kemudian semakin melekat dengan Monumen Pembebasan Irian Barat. Dalam berbagai catatan sejarah, figur Dimara disebut menjadi salah satu inspirasi penggambaran sosok manusia yang memutus rantai pada monumen tersebut.
Monumen Pembebasan Irian Barat dirancang oleh seniman Henk Ngantung dan diwujudkan oleh pematung Edhi Sunarso. Monumen itu kemudian menjadi simbol perjuangan pembebasan Irian Barat sekaligus pengingat terhadap dinamika panjang sejarah Indonesia-Papua.
Perjuangan J.A. Dimara tidak berhenti pada keberadaan sebuah monumen. Ia kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia sebagai penghargaan atas jasa-jasanya dalam perjuangan integrasi Irian Barat.
Dimara wafat pada 20 Oktober 2000 dan dimakamkan secara militer. Kisah hidupnya menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan dan membangun bangsa tidak hanya dilakukan melalui medan perang, tetapi juga melalui diplomasi, pengorbanan pribadi, serta keterlibatan masyarakat dari berbagai daerah.
Monumen di Lapangan Banteng pada akhirnya bukan sekadar bangunan monumental. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah Indonesia dibentuk oleh perjalanan panjang, termasuk kontribusi putra-putra Papua seperti J.A. Dimara yang mengambil bagian dalam dinamika perjuangan bangsa.
Bagi generasi sekarang, mengenang J.A. Dimara bukan sekadar menghafal nama seorang pahlawan. Lebih dari itu, kisahnya menjadi pelajaran tentang keberanian, pengorbanan, persatuan, dan pentingnya memahami sejarah secara utuh serta kritis.
(Redaksi/Perpusnas)













