Radargempita.co.id
Depok, — Aktivitas pengamatan flora dan fauna di kawasan Hutan Kota Universitas Indonesia (UI), mengungkap potret kontras antara kekayaan biodiversitas dan tekanan ekologis yang masih membayangi ruang terbuka hijau di wilayah selatan Jakarta.

Sekitar 100 peserta yang tergabung dalam kegiatan Jakarta Naturalist Walk (JNW) memulai eksplorasi dari Shelter Sepeda Stasiun UI. Kegiatan ini diinisiasi oleh Jakarta Birdwatcher Society sebagai upaya edukasi publik dalam mengenali keanekaragaman hayati di kawasan perkotaan.
“Jakarta Naturalist Walk adalah kegiatan pengamatan satwa dan flora di ruang terbuka hijau dengan pencatatan temuan secara sistematis,” ujar Melisa Qonita dari komunitas tersebut, dikutip Nationalgeographic.co.id, Kamis (30/04).

Foto: Istimewa (Nationalgeographic.co.id)
Kawasan Hutan Kota UI yang memiliki luas sekitar 55 hektare, sebagian di antaranya masuk wilayah administrasi DKI Jakarta, tercatat sebagai salah satu hutan kota terluas di ibu kota.
Area ini menjadi habitat penting bagi berbagai spesies, mulai dari pepohonan hingga satwa liar, khususnya burung.
Di kawasan Danau Salam, peserta mengamati aktivitas burung layang-layang batu (Hirundo javanica) yang dikenal sebagai pengendali alami hama serangga.
Namun, di sisi lain, ditemukan pula ikan invasif red devil (Amphilophus labiatus) yang berpotensi merusak keseimbangan ekosistem perairan.

Foto: Istimewa
Indikasi tekanan lingkungan juga terlihat dari kehadiran capung sambar jingga (Orthetrum testaceum), spesies yang dikenal toleran terhadap kualitas air yang menurun.
Kondisi ini mengindikasikan adanya degradasi ekosistem di beberapa titik kawasan.
Dari sisi vegetasi, peserta mencatat keberadaan tanaman invasif seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan Cecropia peltata yang tumbuh agresif dan berpotensi menggeser spesies lokal.
Meski demikian, peran organisme lain seperti jamur sebagai dekomposer tetap menjadi penopang penting dalam menjaga siklus ekologi hutan.
Temuan menarik lainnya adalah keberadaan cekibar jawa (Draco volans), reptil unik yang mampu meluncur antar pohon dan menjadi indikator masih tersedianya habitat alami yang relatif terjaga.
Muhammad Ali Hermawan dari Kelompok Studi Hidupan Liar (KSHL) Comata Biologi UI menyebutkan sejumlah spesies burung yang teridentifikasi dalam kegiatan tersebut, antara lain munguk beledu (Sitta frontalis), cipoh kacat (Aegithina tiphia), dan sepah kecil (Pericrocotus cinnamomeus). Selain itu, ditemukan pula tanaman bisbul (Diospyros blancoi) yang memiliki nilai konsumsi.

Foto: Istimewa
Meski keragaman hayati masih terjaga, persoalan sampah menjadi catatan serius. Beberapa titik di kawasan hutan ditemukan tercemar limbah, yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana observasi, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga keberlanjutan hutan kota sebagai penyangga ekologis di tengah ekspansi urban.
Jakarta Naturalist Walk sendiri digelar setiap empat bulan sekali, sementara program rutin bulanan Jakarta Birdwalk terus mendorong partisipasi publik dalam konservasi berbasis komunitas.
(Lie)













