Menu ✖

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Gen Z Mulai Rindukan Komunikasi yang Tak Instan

badge-check


					Gen Z Mulai Rindukan Komunikasi yang Tak Instan Perbesar

Radargempita.co.id

Pojok Berita, – Di tengah budaya komunikasi serba cepat, sebagian Generasi Z justru mulai melirik cara berkirim pesan yang sengaja dibuat lambat. Tren ini muncul melalui aplikasi seperti Carrier Pigeon dan Roost, yang mengemas pesan digital layaknya surat yang diantarkan burung merpati pos.

Fenomena tersebut menjadi antitesis dari pola komunikasi melalui aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, maupun iMessage. Jika aplikasi konvensional dirancang agar pesan tiba dalam hitungan detik, layanan berbasis merpati virtual justru menjadikan waktu tunggu sebagai bagian dari pengalaman komunikasi.

Menurut laporan Yahoo Tech yang dikutip CNBC, Senin (7/9/2026), pesan dalam aplikasi tersebut divisualisasikan seolah-olah dibawa seekor merpati yang terbang menuju penerima. Kecepatan perjalanan digambarkan rata-rata mencapai sekitar 177 kilometer per jam. Untuk jarak dekat, pesan dapat tiba relatif cepat, sedangkan pengiriman lintas benua bisa memerlukan waktu jauh lebih lama.

Bahkan, unsur ketidakpastian sengaja dimasukkan ke dalam sistem. Terdapat kemungkinan sekitar 0,2 persen merpati virtual “tersesat”, sehingga pesan tidak pernah sampai kepada penerima.

Konsep tersebut terdengar absurd. Namun justru keabsurdan itulah yang menjadi daya tariknya.

Aplikasi yang dikembangkan Noah Iarrobino itu disebut dibuat hanya dalam waktu sekitar tiga minggu. Dalam deskripsi aplikasinya, sang pengembang bahkan tidak menutupi sifat eksperimental produknya dengan menyebutnya sebagai sesuatu yang “tidak berguna” dan “benar-benar tidak praktis”.

Namun, ketidakpraktisan itu justru menawarkan sesuatu yang nyaris hilang dari komunikasi digital modern: sensasi menunggu.

Ketika Menunggu Menjadi Pengalaman

Saat pengguna menekan tombol kirim, aplikasi menampilkan peta interaktif yang memperlihatkan perjalanan merpati virtual menuju lokasi penerima. Pesan tidak lagi sekadar muncul sebagai notifikasi yang segera dibaca, tetapi menjadi sebuah proses yang harus ditunggu.

Di sinilah konsep tersebut menawarkan pengalaman berbeda dari komunikasi instan.

WhatsApp, Telegram, dan layanan sejenis telah membuat kecepatan menjadi standar. Pesan dikirim dalam hitungan detik, tanda centang menunjukkan statusnya, kemudian penerima diharapkan segera memberikan respons.

Efisiensi memang meningkat. Namun di sisi lain, muncul budaya komunikasi yang menempatkan seseorang seolah harus selalu tersedia dan siap membalas.

Pesan yang masuk dapat datang kapan saja. Percakapan berlangsung tanpa jeda. Bahkan keterlambatan membalas pesan terkadang dipersepsikan sebagai bentuk mengabaikan, meskipun penerima belum tentu memiliki waktu atau energi untuk merespons.

Konsep komunikasi yang sengaja diperlambat mencoba membalik keadaan tersebut.

Menunggu bukan lagi gangguan, melainkan bagian dari pesan itu sendiri.

Bukan Sekadar Tren Teknologi

Popularitas aplikasi sejenis seperti Roost yang disebut telah menggaet sekitar 300.000 pengguna dalam beberapa pekan menunjukkan adanya minat terhadap konsep komunikasi yang berbeda dari arus utama.

Namun, angka tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Gen Z secara luas meninggalkan WhatsApp, Telegram, atau aplikasi pesan instan lainnya. Lebih tepat jika fenomena ini dibaca sebagai munculnya alternatif dan eksperimen baru dalam budaya komunikasi digital.

Daya tariknya bukan terletak pada efisiensi. Justru sebaliknya, nilai jualnya ada pada ketidakefisienan.

Setelah bertahun-tahun teknologi berlomba membuat komunikasi semakin cepat, sebagian pengguna kini tampaknya mulai mencari pengalaman yang lebih lambat, lebih personal, dan tidak terlalu menuntut respons seketika.

Fenomena ini juga memperlihatkan paradoks teknologi digital. Ketika manusia akhirnya memiliki kemampuan mengirim pesan hampir tanpa jeda, muncul keinginan untuk kembali memiliki ruang untuk menunggu.

Melawan Budaya “Harus Segera Membalas”

Komunikasi instan memang memudahkan kehidupan. Namun kecepatan tidak selalu identik dengan kualitas komunikasi.

Kebiasaan membalas pesan secara spontan dapat membuat percakapan berlangsung tanpa banyak pertimbangan. Dalam situasi tertentu, tekanan untuk terus merespons juga dapat menambah beban psikologis dan mengganggu batas antara waktu pribadi dengan tuntutan sosial.

Model komunikasi seperti Carrier Pigeon dan Roost menawarkan pendekatan yang berbeda: tidak semua pesan harus segera sampai, dan tidak semua pesan harus segera dijawab.

Ada jeda untuk berpikir. Ada waktu untuk menunggu. Ada ruang bagi penerima untuk membaca dan memahami pesan tanpa tekanan untuk langsung memberikan respons.

Pada akhirnya, fenomena ini bukan semata-mata tentang burung merpati digital. Ini tentang bagaimana generasi yang tumbuh bersama teknologi justru mulai mempertanyakan salah satu prinsip utama era digital: bahwa segala sesuatu harus berlangsung secepat mungkin.

Jika tren tersebut terus berkembang, pesan digital mungkin tidak lagi hanya dinilai dari seberapa cepat sampai, tetapi juga dari seberapa berarti proses menunggunya.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Siswa Dikejar & Diteriaki, Gotong Royong di SMA Negeri 1 Namorambe Terhenti

23 Oktober 2026 - 23:15 WIB

Sosialisasi Pencegahan Paham Radikal, Sumut merupakan salah satu Provinsi Di Luar Jawa Dengan Anak Terpapar Radikal 

23 Oktober 2026 - 18:46 WIB

SATGAS SAMPAH KODIM 0503/JB TANGANI DARURAT SAMPAH DI KEDOYA SELATAN

23 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Koramil 05/KJ Perkuat Koordinasi Pelayanan Warga, Bahas Pendataan IKD dan DTSEN

23 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Koramil 05/KK Bersama Babinsa Duri Kepa Perkuat Keamanan Lingkungan

23 Oktober 2026 - 16:33 WIB

Trending di Berita
✕

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan