Radargempita.co.id
Pojok Berita, – Bab Festival Tokek Man saya tulis sebagai ruang bernapas di tengah suasana noir yang pekat. Namun, jeda ini bukan diisi ketenangan atau sentimentalitas, melainkan humor grotesk khas Banyumas—mengingatkan pada adegan goro-goro yang dahulu sering dimainkan almarhum Dalang Gino. Humornya lahir dari politik lokal, kehidupan rakyat kecil, kuliner daerah, serta absurditas budaya populer.

Dalam dua pekan, Kota Braling berubah wajah. Gapura dicat ulang, sementara senyum Tokek Man menghiasi lengkung-lengkung beton. Spanduk Festival Tokek Man berkibar di sepanjang jalan. Patung manusia-tokek bertubuh kekar dengan knalpot di pundaknya berdiri di berbagai sudut kota.
Kios-kios dipenuhi suvenir: kaos, topeng karet, stiker, hingga gantungan kunci Tokek Man. Varel bergerak cepat mengurus desain final, hak cipta, lisensi, dan distribusi. Dana APBD mengalir untuk panggung dan parade, sementara perusahaan-perusahaan berlomba menjadi sponsor melalui program CSR.
Kota memperoleh citra baru. Perusahaan mendapatkan panggung promosi. Tim kreatif menikmati fee dan royalti. Nadia menjadi pusat perhatian kamera. Bupati Wagiman meraih keuntungan elektoral.
Hanya Tukiman yang tidak mendapatkan apa-apa.
Parade pun dimulai. Anak-anak mengenakan topeng Tokek Man. Maskot manusia-tokek diarak mengelilingi kota. Musik berdentum keras, lampu berkelap-kelip, sementara aroma mendoan dan nopia memenuhi udara.
Di panggung utama, Bupati Wagiman membuka acara dengan pidato tentang Braling sebagai kota ekonomi kreatif. Di kepalanya terpasang topi Tokek Man yang tampak terlalu sempit hingga menekan rambut palsunya.
Di sampingnya, Bu Murni mengenakan topi Tokek Woman. Ia tersenyum lebar sambil membentuk huruf K—singkatan dari Kreatif—dengan jemarinya. Para kepala dinas berdiri kaku. Beberapa berusaha menahan tawa karena pidato itu terdengar lebih seperti iklan daripada sambutan resmi.
Kemudian dimulailah aksi bersama.
“Tokek… tokek…”
Para pejabat menirukan suara tokek secara serempak. Suaranya menggema di alun-alun—aneh, lucu, sekaligus menggelikan.
Anak-anak menari sambil menyanyikan lagu “Tokek Tokek di Dinding”, plesetan dari lagu anak-anak yang populer. Orang dewasa ikut bernyanyi. Sebagian serius, sebagian tertawa geli. Irama yang kacau justru menambah kesan norak sekaligus menghibur.
Di tengah keramaian, Sari memandangi wajah suaminya yang terpampang di brosur dan spanduk. Dalam versi superhero itu, Tukiman tampak lebih gagah: otot diperbesar, rahang dipertegas, dan tatapan dibuat jauh lebih garang daripada aslinya.
Sementara itu, Tukiman berdiri di sampingnya dengan kaos lusuh dan kantong plastik berisi bekal makanan di tangan.
Ia merasa gerah. Gelisah. Seolah sedang dipamerkan kepada semua orang. Ia tidak tahu apakah harus bangga atau justru merasa dikhianati.
Jalu menatap sebuah spanduk, lalu memandang Tukiman cukup lama.
“Kang, mukanya agak mirip kamu, ya?” bisiknya sambil terkekeh.
Tukiman tertawa pendek.
“Banyak orang mukanya mirip tokek.”
Sari hanya tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan kesedihan.
Tak jauh dari sana, Warni tertawa terbahak-bahak melihat maskot Tokek Man berjalan kaku sambil memanggul knalpot.
“Ya ampun, mukanya kayak tokek ketiban tabung gas!” ujarnya.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sosok yang ditertawakannya itu sebenarnya adalah Tukiman.
Di samping Warni, Bawor sibuk melahap mendoan panas sambil menggigit cabai rawit. Minyak menetes di dagu dan bibirnya.
“Ah… uh… ssshh…”
Ia kepedasan, tetapi tetap melanjutkan makan. Matanya sudah mengincar tumpukan mendoan berikutnya.
Gratis.
Setelah menggerakkan demonstrasi APEM di Braling, Kyai Somad Kudi—dengan bantuan Bu Murni—akhirnya berhasil mengamankan anggaran pembagian mendoan gratis dalam Festival Tokek Man. Bupati Wagiman menyerah setelah didesak hampir setiap hari.
Namun, bagi Kyai Somad Kudi, itu baru permulaan.
Ia telah menyiapkan program berikutnya: Mendoan Bergizi Gratis untuk sekolah-sekolah di Banyumas, dengan mimpi memperluasnya hingga tingkat nasional.
Di atas panggung, Nadia terus melambaikan tangan. Kamera tak henti menyorotnya. Senyumnya tetap sempurna, hasil latihan komunikasi publik yang matang. Di belakangnya, Varel memastikan nama dan logo Tokek Man disebut berulang kali.
Di sudut jalan, Joni Slondom mengamati keramaian dengan tatapan tajam. Ia memperhatikan Nadia dan Varel yang berdiri terlalu dekat, terlalu rapi, terlalu serasi.
Ia memang tidak tahu siapa Tokek Man sebenarnya.
Tetapi ia tahu satu hal: seseorang sedang dijadikan komoditas.
Di kejauhan, Guntur Geni berdiri dengan senyum sinis. Ia tidak menyukai manusia—apalagi makhluk—yang tidak bisa dikendalikan.
Kyai Somad Kudi sendiri tidak hadir. Menurutnya, festival itu telah berubah menjadi bentuk pemujaan.
“Syirik,” katanya kepada istrinya.
Padahal, diam-diam sang istri baru saja membeli kaos dan boneka Tokek Man untuk cucunya.
Malam semakin larut. Lampu festival menyala terang. Musik terus berdentum. Anggaran pembangunan menjelma cahaya, suara, dan hiburan. Anak-anak tertawa, orang dewasa ikut bersorak, dan seluruh kota merayakan Tokek Man sebagai ikon kebanggaan.
Semua orang menikmati pesta itu.
Kecuali Tukiman.
Di Rawa Tambra, Nyi Rembes memandang kerlip lampu kota dengan wajah tegang. Ia tahu Tukiman harus segera diingatkan. Braling telah mengubah Tokek Man dari gangguan menjadi tontonan, lalu dari tontonan menjadi barang dagangan.
Ia menarik napas panjang dan menatap permukaan rawa yang tenang.
Mungkin itulah satu-satunya hal di Braling yang belum diperjualbelikan.
(Redaksi / Tempo Edisi 2010)












