Radargempita.co.id
Sejarah, — Gusti Buyut Hasan atau yang lebih dikenal sebagai Demang Lehman mengakhiri perjuangannya di tiang gantungan yang didirikan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Lapangan Martapura, Kalimantan Selatan.

Tokoh penting dalam Perang Banjar itu dieksekusi setelah ditangkap Belanda usai diduga mengalami pengkhianatan ketika berada di Gua Regat.
Sejumlah catatan sejarah menyebutkan, Demang Lehman menghadapi eksekusi dengan tenang dan tetap menunjukkan keteguhan sikap.
Sebelum hukuman dilaksanakan, ia dikisahkan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai bentuk keyakinan dan pengabdiannya terhadap perjuangan yang selama bertahun-tahun ia jalani melawan kekuasaan kolonial.
Eksekusi tersebut menjadi salah satu peristiwa penting dalam upaya Belanda meredam perlawanan rakyat Banjar yang masih berlangsung pada pertengahan abad ke-19.
Namun, tindakan pemerintah kolonial tidak berhenti pada pelaksanaan hukuman mati. Sejumlah sumber sejarah menyebutkan kepala Demang Lehman dipisahkan dari jasadnya dan kemudian dibawa ke Belanda untuk kepentingan penelitian ilmiah yang berkembang pada masa itu, termasuk kajian kraniologi.
Bagi pemerintah kolonial, langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari dokumentasi dan penelitian. Namun bagi masyarakat Banjar, peristiwa itu menjadi simbol perlakuan tidak manusiawi terhadap seorang pejuang yang mempertahankan tanah kelahirannya dari penjajahan.
Jasad Demang Lehman dimakamkan di Martapura, sementara tengkoraknya selama bertahun-tahun berada di Belanda.
Kisah terpisahnya kepala dan tubuh sang panglima kemudian menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Banjar serta menggambarkan kerasnya konflik antara rakyat lokal dan pemerintah kolonial pada masa Perang Banjar.
Meski gugur di tangan penjajah, nama Demang Lehman tetap dikenang sebagai salah satu tokoh perlawanan Banjar yang menunjukkan keberanian, keteguhan, dan loyalitas terhadap perjuangan hingga akhir hayatnya.
Tragedi yang menimpa dirinya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga simbol pengorbanan para pejuang dalam menghadapi kolonialisme di Nusantara.
(Red)












