Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Darurat Kesehatan Papua, Wamendagri Sentil Ketidaksinkronan Pusat-Daerah

badge-check


					Darurat Kesehatan Papua, Wamendagri Sentil Ketidaksinkronan Pusat-Daerah Perbesar

Radargempita.co.id

JAYAPURA, — Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menegaskan pentingnya keselarasan program antara pemerintah pusat dan daerah dalam menangani persoalan kesehatan di Tanah Papua.

Ia menyoroti masih tingginya kasus penyakit menular seperti AIDS, tuberkulosis, malaria (ATM), dan kusta yang membutuhkan penanganan terpadu dan berkelanjutan.

Pernyataan tersebut disampaikan Wiyagus saat Rapat Koordinasi Teknis Percepatan Eliminasi AIDS, Tuberkulosis, Malaria, dan Kusta yang digelar di Kabupaten Jayapura.

Dalam forum itu, ia menekankan bahwa sektor kesehatan merupakan urusan wajib pemerintah yang berkaitan langsung dengan pelayanan dasar masyarakat.

“Kesehatan adalah tanggung jawab utama pemerintah yang tidak bisa ditawar. Karena itu, sinergi pusat dan daerah menjadi kunci,” ujar Wiyagus dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu (29/04).

Ia menilai pemerintah daerah perlu menempatkan sektor kesehatan sebagai prioritas utama pembangunan.

Penguatan sumber daya manusia (SDM), lanjutnya, juga menjadi bagian penting dalam agenda nasional yang tercermin dalam visi pembangunan pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah pusat disebut telah menunjukkan komitmennya melalui dukungan anggaran dan pembentukan tim khusus oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk menangani penyakit ATM dan kusta di Papua.

Namun demikian, Wiyagus mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada implementasi di tingkat daerah.

“Pemda harus aktif mengoordinasikan program, memastikan pendanaan tersedia, mempercepat deteksi kasus, serta menjamin pengobatan dan pencegahan berjalan optimal,” tegas Wiyagus.

Ia juga menyoroti pentingnya mitigasi dampak sosial dan ekonomi yang kerap dialami pasien, termasuk stigma yang masih melekat di masyarakat.

Menurutnya, pendekatan pentaheliks—melibatkan pemerintah, akademisi, dan organisasi nonpemerintah—menjadi strategi yang harus diperkuat.

Selain itu, Wiyagus menekankan perlunya edukasi publik yang lebih masif dan kontekstual.

Pelibatan tokoh adat dinilai krusial untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penyakit menular tersebut, sekaligus mendorong deteksi dan penanganan sejak dini.

“Pendekatan harus spesifik, edukatif, dan mudah dipahami masyarakat. Dengan begitu, penanganan bisa lebih cepat dan efektif,”tegas nya.

Lebih lanjut Wiyagus menegaskan, sebagai wilayah strategis dalam pembangunan nasional, Papua tidak boleh tertinggal dalam aspek kesehatan. Ia mengingatkan bahwa tanpa koordinasi yang solid dan komitmen bersama, target eliminasi penyakit menular di wilayah tersebut akan sulit tercapai.

((Nadilla. F)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mahasiswa USU Demo di DPRD Sumut, Tuntut Stabilitas BBM dan Realisasi 19 Juta Lapangan Kerja

15 Juni 2026 - 15:57 WIB

Gagalkan Tawuran, Polisi Tangkap Dua Anggota Geng Motor yang Bawa Ganja

15 Juni 2026 - 11:08 WIB

Lebih dari 1 juta Ton Barang Diangkut via Kereta Kontainer, Setara Mengurangi Pergerakan Hampir 60 Ribu Truk di Jalan Raya

15 Juni 2026 - 09:17 WIB

Gagalkan Penyelundupan 10 Kg Sabu dari Malaysia, Polda Sumut Amankan Satu Tersangka di Asahan

15 Juni 2026 - 00:45 WIB

Pelestarian Budaya, Guro Guro Aron Persatukan Warga STM Hulu Deli Serdang

14 Juni 2026 - 13:26 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan