RADARGEMPITA.CO.ID
PIALA DUNIA 2026 – Timnas Belgia membuktikan bahwa mereka belum habis bersaing di Piala Dunia 2026. Meski sempat diragukan sebelum turnamen dimulai, Setan Merah sukses melaju ke babak perempat final dan kini bersiap menghadapi Spanyol dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Kebangkitan Belgia menjadi salah satu cerita terbesar di edisi Piala Dunia kali ini. Setelah melakukan comeback dramatis saat menyingkirkan Senegal, Belgia tampil impresif dengan menghancurkan Amerika Serikat dengan skor 4-1 untuk mengamankan tiket ke delapan besar.
Kepergian nama-nama besar seperti Eden Hazard, Marouane Fellaini, Mousa Dembele, dan Vincent Kompany sempat membuat Belgia diprediksi sulit bersaing. Namun, keberadaan pemain senior seperti Thibaut Courtois, Romelu Lukaku, Kevin De Bruyne, dan Axel Witsel mampu menjaga daya saing tim, sementara pelatih Rudi Garcia berhasil membangun keseimbangan antara pengalaman para pemain senior dan semangat generasi baru.
Belgia sebelumnya mencapai perempat final pada Piala Dunia 2014, menembus semifinal pada 2018, tetapi gagal lolos dari fase grup pada edisi 2022. Penampilan di Piala Dunia 2026 menjadi sinyal bahwa proses regenerasi mulai menunjukkan hasil yang memuaskan.
Kiper Thibaut Courtois menilai skuad Belgia saat ini merupakan awal dari generasi baru yang siap mencetak sejarah. “Saya pikir ini adalah era baru bagi kami. Memang benar ada beberapa pemain dari era keemasan, tetapi Piala Dunia di Qatar bagi kami tidak begitu bagus,” katanya dilansir dari BBC pada Jumat (10/7/2026).
“Sekarang kita memiliki generasi lain dengan orang-orang yang lebih muda, orang-orang baru, yang bersedia melakukan hal-hal besar dan menuliskan sejarah bagi Belgia,” jelasnya. Menurut Courtois, para pemain muda kini memikul tanggung jawab lebih besar, sementara para pemain senior berperan sebagai mentor di dalam maupun luar lapangan.
Romelu Lukaku tetap menjadi sosok penting di lini depan. Meski menit bermainnya lebih terbatas, penyerang berusia 33 tahun itu telah mencetak tiga gol dan memberi dampak besar ketika masuk sebagai pemain pengganti. Sementara itu, Kevin De Bruyne sempat mengalami cedera di tengah turnamen, namun tetap menjadi figur sentral di ruang ganti, begitu pula dengan Axel Witsel yang lebih banyak menjalankan peran sebagai pemain pelapis.
Selain para pemain senior, sejumlah pemain muda tampil impresif sepanjang turnamen. Leandro Trossard menjadi salah satu motor serangan Belgia dengan torehan dua gol dan dua assist, sekaligus menjadi pemain yang paling banyak menciptakan peluang. Charles De Ketelaere juga memberi kontribusi signifikan melalui dua gol dan satu assist, sedangkan kapten Youri Tielemans tampil sebagai pemimpin di lapangan setelah mencetak gol penting saat melawan Senegal. Hans Vanaken pun menyumbang satu gol dan dua assist, sementara Jeremy Doku terus menunjukkan potensinya sebagai salah satu pemain muda paling berbahaya di skuad.
Pelatih Rudi Garcia menilai usia bukan ukuran untuk menentukan kualitas seorang pemain dan menolak anggapan bahwa para pemain senior Belgia telah melewati masa terbaiknya. “Saya benar-benar tidak tahan ketika keempat pemimpin saya disebut ‘veteran’. Itu tidak pantas. Jika negara Anda cukup beruntung memiliki pemain sekaliber ini, maka dukunglah mereka. Inilah yang bisa dilakukan oleh para ‘veteran’ Belgia,” tegasnya.
Garcia juga menilai kekompakan menjadi salah satu kekuatan utama Belgia di Piala Dunia 2026. Keberagaman latar belakang para pemain membuat bahasa Inggris menjadi bahasa komunikasi utama di dalam skuad, yang dinilai mampu menyatukan pemain dari berbagai komunitas bahasa di Belgia.
Dengan perpaduan pengalaman pemain senior, talenta muda yang berkembang, serta kekompakan tim yang kuat, Belgia kini bertekad melanjutkan kejutannya saat menghadapi Spanyol demi memperebutkan tiket ke semifinal Piala Dunia 2026. (Ril)













