Radargempita.co.id
Pojok Berita, – Anak-anak memiliki dunia yang khas: dunia yang penuh imajinasi, kebebasan, dan kreativitas. Penyair India, Rabindranath Tagore, menggambarkan dunia itu sebagai “pantai dunia yang tiada berbatas”, tempat anak-anak berkumpul, bermain, dan menciptakan sesuatu dari benda-benda sederhana di sekitar mereka.

Dalam puisinya, Tagore melukiskan anak-anak yang membangun rumah-rumahan dari pasir, menganyam kapal dari daun-daun kering, lalu melayarkannya di atas air sambil tertawa.
Mereka tidak mencari harta karun atau mengejar keuntungan. Dunia mereka adalah ruang kebebasan yang tidak dibatasi target, pamrih, maupun tujuan-tujuan praktis sebagaimana dunia orang dewasa.
Gambaran serupa muncul dalam novel Le Petit Prince karya Antoine de Saint-Exupéry. Sang Pangeran Kecil mengamati bahwa hanya anak-anak yang benar-benar memahami apa yang mereka cari. Mereka mampu memberikan makna besar pada hal-hal sederhana, seperti boneka perca atau permainan yang mereka ciptakan sendiri.
Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan menikmati kebebasan tersebut. Sebagian anak harus bekerja sejak usia dini, memikul beban kehidupan yang berat, berjalan membawa kaleng minyak, atau menawarkan jasa menyemir sepatu demi membantu memenuhi kebutuhan hidup. Ruang bermain mereka menjadi sangat terbatas.
Di sisi lain, terdapat anak-anak yang hidup dalam kecukupan materi, tetapi tetap kehilangan kebebasan. Mereka tumbuh dalam pengawasan yang berlebihan atau menghabiskan sebagian besar waktunya di depan televisi dan berbagai hiburan yang telah disiapkan oleh dunia orang dewasa.
Meski berbeda latar belakang, kedua kelompok anak ini menghadapi persoalan yang sama: hilangnya kesempatan untuk bermain dan berkreasi secara bebas.
Akibatnya, waktu yang semestinya digunakan untuk berimajinasi, menciptakan permainan, atau membangun pengalaman masa kanak-kanak mereka sendiri perlahan terampas.
Sebagian kelelahan karena tuntutan hidup, sementara sebagian lainnya menjadi penonton pasif dari dunia yang dibentuk orang dewasa.
Tulisan yang dimuat majalah Tempo pada 1 Mei 1976 ini menjadi refleksi tentang pentingnya menjaga ruang bermain dan kebebasan anak. Sebab, masa kanak-kanak pada hakikatnya bukan sekadar fase pertumbuhan, melainkan masa ketika kreativitas, kejujuran, dan kebebasan menemukan bentuknya yang paling murni.
(Lie)












