Radargempita.co.id
Sejarah, – Kota kuno Pompeii yang selama ini dikenal hancur akibat letusan Gunung Vesuvius ternyata menyimpan dugaan jejak teknologi perang maju dari era Romawi kuno. Sejumlah arkeolog menduga bekas kerusakan pada dinding kota itu menjadi bukti pertama penggunaan senjata mekanis bernama polybolos, alat tempur yang disebut memiliki kemampuan menembak proyektil secara beruntun layaknya “senapan mesin” kuno.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Heritage melalui studi berjudul From Pompeii to Rhodes, from Survey to Sources: The Use of Polybolos. Penelitian dilakukan tim arkeolog dari University of Campania yang meneliti pola kerusakan pada benteng batu Pompeii.
Sebelum dihancurkan letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 M, Pompeii pernah mengalami pengepungan besar pada 89 SM dalam konflik Social War (91–87 SM). Saat itu, pasukan Romawi di bawah komando Lucius Cornelius Sulla menyerang kota tersebut untuk menumpas perlawanan sekutu-sekutu Italia terhadap kekuasaan Romawi.
Pasukan Romawi memusatkan serangan di tembok utara dekat Gerbang Herculaneum dan Vesuvio menggunakan artileri berat seperti ballistae, mesin perang menyerupai busur silang raksasa. Serangan itu meninggalkan bekas lekukan besar pada dinding batu kota.
Namun, para peneliti menemukan pola kerusakan berbeda berupa lubang kecil berbentuk empat sisi yang tersusun rapat dan berdekatan. Pola tersebut dinilai tidak sesuai dengan karakteristik serangan ballistae biasa dan diduga berasal dari polybolos.

Foto: Perbandingan dua model bekas benturan pada dinding batu. Sebelah kiri (A) menunjukkan dampak proyektil batu berbentuk bulat, sedangkan sebelah kanan (B) memperlihatkan kumpulan bekas benturan kecil berbentuk segi empat yang menyebar seperti kipas.
Menurut catatan sejarah, polybolos dikembangkan insinyur Yunani Dionysius dari Alexandria pada abad ke-3 SM. Senjata ini bekerja menggunakan sistem rantai dan roda gigi mekanis yang memungkinkan proyektil ditembakkan berulang kali dari magasin penyimpanan.
Teknologi tersebut digambarkan oleh Philo dari Byzantium sebagai “ketapel berulang”, konsep yang dianggap menyerupai cikal bakal senapan mesin modern, meski teknologi serupa baru berkembang kembali hampir dua milenium kemudian.
Selama ini keberadaan polybolos hanya diketahui dari teks kuno tanpa bukti fisik yang jelas. Karena itu, dugaan temuan di Pompeii dinilai penting dalam kajian sejarah militer kuno.
Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti menggunakan pemindaian laser resolusi tinggi, analisis citra detail, dan pemodelan tiga dimensi terhadap kerusakan dinding kota. Hasil analisis menunjukkan sebagian besar lubang hanya menembus beberapa sentimeter, yang mengindikasikan penggunaan proyektil logam, bukan batu besar seperti pada ballistae.
Selain itu, pola kerusakan yang rapat dan menyebar menyerupai kipas memperkuat dugaan adanya senjata yang mampu menembak cepat secara berulang.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa bukti tersebut masih bersifat interpretatif karena senjata polybolos belum pernah ditemukan secara langsung.
Jika dugaan ini terbukti, penemuan tersebut berpotensi mengubah pandangan sejarah mengenai tingkat kemajuan teknologi perang di dunia kuno.
Para ahli menduga Romawi kemungkinan mengadopsi teknologi mekanis Yunani itu setelah mempelajari inovasi militer dari kawasan Mediterania timur.
Teknologi tersebut kemudian diyakini menghilang selama berabad-abad sebelum konsep senjata tembak beruntun kembali muncul pada era modern.
(Redaksi)












