Radargempita.co.id
Alam, – Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik tinggi sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Peningkatan aktivitas tersebut memicu kekhawatiran menyusul masih adanya pendaki yang nekat mendekati kawasan berbahaya demi mendapatkan dokumentasi visual untuk media sosial.

Pakar vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung, Mirzam Abdurrachman, menilai fenomena tersebut menunjukkan pergeseran motivasi pendakian, dari menikmati alam menjadi upaya mengejar popularitas digital yang berisiko tinggi.
Menurut Mirzam, daya tarik gunung api memang cenderung meningkat saat terjadi aktivitas erupsi karena menyuguhkan panorama alam yang dramatis. Namun, ia menegaskan keselamatan jiwa tidak sebanding dengan kepuasan sesaat atau popularitas di media sosial.
Ia mengingatkan ancaman erupsi Dukono tidak hanya berupa abu vulkanik yang mengikuti arah angin, tetapi juga lontaran material pijar atau bom vulkanik, gas beracun, aliran lava, hingga awan panas yang dapat mengancam keselamatan dalam waktu singkat.
Berdasarkan data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), status Gunung Dukono mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pada Agustus 2024, Dukono berada pada Level II atau Waspada dengan radius aman tiga kilometer dari kawah aktif. Memasuki Desember 2024, radius bahaya diperluas menjadi empat kilometer.
Kemudian, pada 17 April 2026, status Gunung Dukono meningkat menjadi Level III atau Siaga. Pada level tersebut, aktivitas pendakian seharusnya dihentikan sepenuhnya karena potensi bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Foto: Gunung Dukono, Maluku
Mirzam menegaskan, awan panas atau wedhus gembel memiliki kecepatan tinggi hingga mencapai 150 kilometer per jam, sehingga manusia hampir tidak memiliki peluang untuk menyelamatkan diri apabila berada di jalur lintasannya.
Ia juga menyoroti pentingnya mitigasi berbasis komunitas di wilayah rawan bencana. Menurutnya, sistem peringatan dini tidak selalu efektif apabila masyarakat tidak memahami informasi teknis atau memiliki keterbatasan akses internet dan bahasa.
Karena itu, edukasi kebencanaan perlu melibatkan tokoh masyarakat, kepala desa, dan pemandu lokal sebagai penghubung informasi kepada warga maupun wisatawan.
“Ttokoh masyarakat yang dipercaya harus menjadi bagian penting dalam edukasi mitigasi agar informasi ilmiah dapat dipahami secara sederhana dan praktis oleh masyarakat,” ujar Mirzani dilansir laman ITB, Jum’at (15/05).
Lebih lanjut Mirzam menambahkan, tanggung jawab keselamatan di kawasan gunung api merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan pemerintah, PVMBG, akademisi, BNPB, hingga pelaku wisata dan para pendaki.
Ia mengimbau wisatawan untuk selalu memeriksa informasi resmi terkait aktivitas gunung api sebelum melakukan perjalanan serta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan.
Keindahan erupsi Gunung Dukono, lanjutnya, tetap dapat dinikmati tanpa harus mempertaruhkan nyawa, selama masyarakat disiplin menjaga jarak aman dan mengutamakan keselamatan di atas kepentingan konten media sosial.
(Abdulrahman. T)












