Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Home

Permukaan Danau Toba Surut Drastis, Ancaman Kematian Massal Ikan Kembali Menghantui? 

badge-check


					Permukaan Danau Toba Surut Drastis, Ancaman Kematian Massal Ikan Kembali Menghantui?  Perbesar

Radargempita.co.id

Ragam, – Penyusutan muka air Danau Toba hingga sekitar 1,6 meter dalam kurun Juni 2025 hingga Maret 2026 memicu kekhawatiran terhadap sektor perikanan budi daya, khususnya keramba jaring apung (KJA).

Berdasarkan data satelit altimetri, penurunan muka air danau berpotensi terus berlanjut. Ahli Penginderaan Jauh Satelit IPB University, Jonson Lumban Gaol, memperkirakan penyusutan dapat mencapai hampir dua meter apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.

Menurut Jonson, kondisi tersebut berisiko mengganggu berbagai aktivitas di kawasan Danau Toba, terutama sektor perikanan budi daya.

Ancaman semakin besar jika fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif terjadi bersamaan pada 2026.

“Kombinasi itu dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk kawasan Danau Toba, sehingga mempercepat penyusutan volume air danau dan meningkatkan risiko kematian massal ikan di KJA,” ujarnya seperti dikutip dari laman IPB University, Sabtu (9/05).

Foto: Istimewa (Muka air Danau Toba terus menurun. Tinggi permukaannya berpotensi berkurang hingga 2 meter pada tahun ini jika dibanding tahun lalu).

Ia menjelaskan, penurunan muka air danau bukan penyebab langsung kematian ikan, melainkan faktor pemicu terjadinya percampuran massa air saat cuaca ekstrem dan angin kencang.

Dalam kondisi perairan yang lebih dangkal, angin kencang dapat mengaduk sedimen limbah organik di dasar danau. Sedimen halus kemudian terangkat ke permukaan dan berpotensi menyumbat insang ikan.

Pada saat bersamaan, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke permukaan sehingga kadar oksigen terlarut turun drastis.

“Kondisi itu dapat memicu kematian ikan secara massal di KJA,” kata Jonson.

Ia menambahkan, penumpukan limbah organik dan limbah rumah tangga di dasar danau turut memperburuk kondisi perairan.

Saat kadar oksigen menurun, proses penguraian limbah berlangsung secara anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida serta metana.

“Hidrogen sulfida dapat merusak sistem pernapasan ikan, sedangkan metana ikut menurunkan kualitas air. Kombinasi rendahnya oksigen, tingginya gas beracun, dan meningkatnya kekeruhan menjadi penyebab utama kematian massal ikan,” pungkasnya

Fenomena serupa pernah terjadi pada 2016 ketika ribuan ton ikan di KJA mati saat muka air Danau Toba surut hingga sekitar dua meter. Kejadian dengan skala lebih kecil juga tercatat pada 2018, 2020, dan 2023.

Jonson mengimbau nelayan meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika muncul tanda-tanda cuaca ekstrem seperti angin kencang dan perubahan warna air menjadi keruh.

Nelayan disarankan memindahkan KJA ke perairan yang lebih dalam atau mempercepat panen ikan untuk mengurangi risiko kerugian.

Di sisi lain, pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan diminta lebih proaktif dengan menyiapkan sistem peringatan dini yang cepat dan akurat guna mengantisipasi dampak penyusutan muka air Danau Toba.

 

(Lie)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Customer Service Lebih Efisien dengan AI Agent dari Barantum

26 Mei 2026 - 09:35 WIB

Bukti Nyata Keberhasilan Transformasi Digital Lalu Lintas, Jasa Marga Raih Penghargaan Kapolri Atas Kontribusi Sukseskan Pelayanan Operasi Nataru 2025/2026 dan Operasi Ketupat 2026

26 Mei 2026 - 07:41 WIB

Pengembalian TKD Terbesar Rp6 Triliun Diterima Sumut, Juga Penyumbang Hibah Terbesar Rp260 Miliar

26 Mei 2026 - 07:32 WIB

Paya Bakung United Siap Hadapi Liga 4 Piala Presiden – Imbang Lawan Timor Leste U19

26 Mei 2026 - 07:04 WIB

Apa Itu Akumulasi dalam Trading untuk Pemula

26 Mei 2026 - 06:58 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan