Radargempita.co.id
Ragam, – Fenomena El Nino yang kian sering terjadi dengan intensitas lebih kuat akibat perubahan iklim diperkirakan akan memicu krisis ekologis di Indonesia.

Dampaknya tidak hanya menyebabkan kekeringan dan kebakaran hutan, tetapi juga meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar.
Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Abdul Haris Mustari, menjelaskan bahwa El Nino menyebabkan penurunan curah hujan secara signifikan sehingga memicu kemarau panjang dan kondisi lingkungan yang lebih kering.
Menurutnya, dampak perubahan iklim tersebut sangat memengaruhi keberlangsungan hidup satwa liar di habitat alaminya. Peningkatan suhu dan kekeringan menyebabkan ketersediaan pakan serta sumber air bagi satwa semakin berkurang.
“Turunnya produktivitas tumbuhan pakan seperti buah, daun, dan tumbuhan bawah berdampak langsung pada kelangsungan hidup satwa liar,” ujar Mustari seperti dikutip dari laman BRIN, Sabtu (9/05).
Kondisi itu memaksa sejumlah satwa keluar dari habitat hutan untuk mencari makanan dan air ke kawasan perkebunan hingga permukiman warga.
Situasi tersebut dinilai meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar.
“Satwa dapat memperluas wilayah jelajahnya menuju area yang dekat dengan aktivitas manusia. Ini berpotensi memicu konflik yang lebih sering terjadi,” kata Mustari

Foto: Istimewa (Ilustrasi kawanan gajah. Konflik antara manusia dan gajah meningkat seiring laju perubahan iklim dan alih guna hutan).
Selain itu, El Nino juga dinilai memperburuk kerusakan ekosistem akibat meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kebakaran yang terjadi saat musim kemarau panjang tidak hanya menghancurkan habitat satwa, tetapi juga mengganggu proses reproduksi serta penyebaran biji tanaman di kawasan hutan.
Mustari menegaskan, terganggunya rantai makanan dan regenerasi hutan dapat berdampak jangka panjang terhadap keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan keanekaragaman hayati.
Kajian ilmiah yang diterbitkan jurnal Science turut memperkuat temuan tersebut. Dalam makalah berjudul Human-wildlife conflict under climate change, disebutkan bahwa perubahan iklim memperparah konflik manusia dan satwa liar akibat semakin terbatasnya sumber daya alam dan ruang hidup.
Peneliti dari Department of Biology, Center for Ecosystem Sentinels, University of Washington, Seattle, Briana Abrahms, menyebutkan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan tingkat keparahan konflik manusia dengan satwa liar.
Menghadapi potensi meningkatnya interaksi satwa liar dengan manusia, masyarakat diimbau untuk tidak bertindak gegabah.
Keberadaan satwa liar sebaiknya segera dilaporkan kepada aparat setempat maupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam agar penanganan dapat dilakukan secara aman.
Dalam kondisi darurat, satwa liar disarankan dihalau menggunakan cara sederhana tanpa melukai ataupun membunuhnya.
Mustari menekankan, upaya pencegahan paling efektif tetap terletak pada perlindungan habitat alami satwa dan pelestarian hutan.
Menurutnya, kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan tokoh lokal sangat penting untuk mencegah kerusakan hutan sekaligus meningkatkan kesadaran menjaga ekosistem.
“Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Hilangnya satu spesies dapat memengaruhi keseimbangan kehidupan lainnya, termasuk manusia,” pungkasnya.
(Lie)












