Radargempita.co.id
Ragam, – Selama jutaan tahun, pergerakan spesies pohon antara Hutan Amazon dan Hutan Hujan Atlantik menjadi misteri ilmiah. Kedua ekosistem besar ini terpisah oleh bentang alam kering berupa sabana dan hutan tropis kering yang secara alami tidak ramah bagi sebagian besar vegetasi hutan hujan.

Selama ini, para ilmuwan beranggapan bahwa perpindahan spesies terjadi pada periode tertentu di masa lalu ketika wilayah tersebut lebih lembap.
Namun, temuan terbaru justru menantang asumsi lama itu. Studi yang dipublikasikan dalam Proceedings of the Royal Society B pada 2025 mengungkap teori baru: penyebaran pohon berlangsung secara berkelanjutan melalui jalur sungai yang berfungsi sebagai “jalan raya” alami.

Foto: Istimewa
Penelitian bertajuk “Continuous colonization of the Atlantic coastal rain forests of South America from Amazônia” ini menunjukkan bahwa kolonisasi tidak terjadi secara sporadis, melainkan terus-menerus sepanjang waktu.
Sungai-sungai yang mengalir melintasi wilayah kering Brasil diduga menjadi koridor ekologis yang memungkinkan pohon tumbuh, beregenerasi, dan berpindah secara bertahap antargenerasi.
Peneliti utama, James Nicholls, menjelaskan bahwa proses ini berlangsung perlahan namun konsisten.
Menurutnya, alih-alih bergantung pada perubahan iklim masa lalu, penyebaran spesies justru terjadi melalui mekanisme alami yang stabil dalam jangka panjang.

Foto: Istimewa
Kesimpulan tersebut diperoleh melalui analisis genetika terhadap 164 spesies pohon Inga, salah satu kelompok tumbuhan dominan di hutan hujan Amerika Latin. Dari pemetaan DNA, tim peneliti berhasil merekonstruksi garis keturunan dan pola migrasi spesies di seluruh benua.
Hasilnya, ditemukan 16 hingga 20 peristiwa migrasi dari Amazon ke Hutan Atlantik. Sebaliknya, hanya satu hingga dua kasus perpindahan terjadi ke arah sebaliknya.
Ketimpangan ini diduga akibat dominasi aliran biji dari Amazon yang lebih kuat dalam persaingan ekosistem.
Temuan ini menegaskan bahwa ekosistem hutan hujan tidak terikat oleh batas administratif yang diciptakan manusia.
Konektivitas alami antarwilayah justru memainkan peran kunci dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati.
Toby Pennington menekankan bahwa perlindungan kawasan hutan, khususnya di sepanjang aliran sungai, menjadi krusial untuk menjaga jalur migrasi alami tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi Hutan Hujan Atlantik saat ini semakin mengkhawatirkan, dengan hanya sekitar 20 persen kawasan yang masih tersisa.
Di sisi lain, hutan ini menyimpan kekayaan hayati luar biasa, bahkan memiliki sekitar 3.000 spesies tumbuhan lebih banyak dibandingkan wilayah Amazon Brasil.
Fakta tersebut memperkuat urgensi perlindungan jangka pendek sekaligus strategi konservasi jangka panjang yang mencakup koridor penghubung antar ekosistem.
Studi ini membuka perspektif baru dalam memahami dinamika hutan tropis sekaligus menjadi peringatan bahwa upaya konservasi tidak bisa dilakukan secara parsial.
Tanpa menjaga konektivitas alami, keberlangsungan ekosistem lintas wilayah terancam terputus secara permanen.
(Apit)












