Radargempita.co.id, — Kegiatan pendakian gunung yang selama ini kerap dipersepsikan sebagai aktivitas maskulin, kini semakin terbuka bagi perempuan.
Hal itu tercermin dalam kegiatan Woman Adventure Camp 2026 yang digelar di Gunung Papandayan pada 12–14 April 2026 silam, ini bukan hanya soal ketinggian namun menghadirkan pengalaman edukatif sekaligus reflektif bagi puluhan peserta dari berbagai daerah.

Gunung dengan ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dikenal ramah bagi pendaki pemula. Lanskapnya menawarkan kombinasi kawah aktif, hamparan edelweis, hingga kawasan ikonik Hutan Mati, yang menjadi daya tarik sekaligus tantangan tersendiri.
Sebanyak 75 peserta dari berbagai wilayah—mulai dari Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan, hingga Malaysia—mengikuti kegiatan ini. Mereka tidak hanya menjalani pendakian, tetapi juga mendapat pembekalan dasar, seperti manajemen perlengkapan, kesehatan fisik dan mental, serta pemahaman etika beraktivitas di alam bebas.

Foto: Peserta Woman Adventure Camp 2026 mengikuti sesi pembekalan materi yang mencakup pembuatan konten serta pengetahuan kesehatan perjalanan, baik fisik maupun mental.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Eiger Adventure ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Kartini dan Hari Bumi. Penyelenggara menekankan pentingnya kesadaran lingkungan melalui aksi nyata, seperti penanaman pohon cantigi—tanaman endemik yang mampu bertahan di ekosistem pegunungan.
Selama tiga hari dua malam, peserta mengalami langsung dinamika kehidupan di alam terbuka. Adaptasi suhu menjadi salah satu tantangan awal, dari kondisi panas perkotaan menuju suhu pegunungan yang bisa mencapai 13 derajat Celsius.
Selain itu, interaksi antar peserta yang sebelumnya tidak saling mengenal turut membentuk solidaritas melalui aktivitas bersama, mulai dari memasak hingga berbagi logistik.
Pada hari terakhir, peserta melakukan pendakian menuju Tebing Soni sejak pukul 05.00 WIB. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 90–120 menit tersebut diwarnai pemandangan matahari terbit serta aktivitas warga lokal yang turut mendukung kegiatan, seperti jasa ojek dan penyedia logistik.
Momen puncak kegiatan berlangsung saat para peserta menggelar upacara dengan mengenakan kebaya dan membentangkan bendera Merah Putih. Simbol tersebut menjadi representasi semangat emansipasi dan keberanian perempuan dalam menjelajahi ruang-ruang baru.

Foto: Istimewa
Selain aspek simbolik, kegiatan ini juga menekankan nilai keberlanjutan. Penanaman pohon di kawasan tebing menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem gunung, sejalan dengan semangat pelestarian lingkungan.
Meski jalur seperti Hutan Mati menghadirkan tantangan fisik, termasuk keterbatasan air dan medan yang cukup berat, semangat kolektif antar peserta menjadi faktor penting dalam menyelesaikan pendakian. Saling mendukung menjadi kunci keberhasilan hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir.
Secara lebih luas, kegiatan ini menunjukkan bahwa ruang aktualisasi perempuan kini semakin beragam tidak hanya di bidang pendidikan dan profesi, tetapi juga dalam aktivitas eksplorasi alam.
Semangat yang dahulu diperjuangkan tokoh seperti Raden Ayu Lasminingrat, kini menemukan bentuk baru dalam keberanian perempuan menembus batas-batas sosial dan fisik.
Pendakian di Gunung Papandayan bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga proses pembelajaran—tentang ketahanan diri, kerja sama, dan tanggung jawab terhadap alam. Sebuah langkah kecil yang mencerminkan perubahan cara pandang terhadap peran perempuan di ruang publik dan lingkungan hidup.
(Lie)












