Radargempita.co.id
JAKARTA — Kisah perjuangan Muhammad Ja’far Hasibuan, mahasiswa Program Magister Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU), mendapat perhatian dalam seminar dan talkshow peluncuran serta bedah buku internasional berjudul Penemu Biofar SS: Anak Desa dari 70 Ribu Mendunia yang digelar di Aula G, FKM Universitas Indonesia (UI), Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, serta pemangku kepentingan untuk membahas perjalanan akademik dan pengembangan inovasi yang diklaim lahir dari pengalaman empiris penulis.

Ja’far mengatakan kegiatan yang diselenggarakan Mega Press Nusantara, Perpurnas, dan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), dengan dukungan sejumlah institusi, diikuti sekitar 500 peserta secara luring dan 1.500 peserta secara daring.
Menurut Ja’far, peluncuran buku tersebut juga mendapat dukungan dari Perpustakaan Nasional RI, IKAPI, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI, serta FKM UI. Acara dibuka dalam rangkaian kegiatan yang dihadiri perwakilan Polri, dengan sambutan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang dibacakan dalam acara tersebut.
“Peluncuran ini menjadi bukti bahwa keterbatasan sosial dan ekonomi tidak harus menjadi penghalang untuk menghasilkan karya akademik dan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Ja’far kepada awak media, Sabtu (15/8/2026).
Ja’far merupakan anak yatim yang berasal dari wilayah pedesaan di Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Ia mengaku merantau dengan bekal Rp70.000 dan berupaya membiayai pendidikannya melalui usaha berjualan roti sambil menjalani perkuliahan.
Pengalaman tersebut kemudian dituangkan dalam buku setebal lebih dari 400 halaman yang didukung lebih dari 200 referensi ilmiah lintas disiplin. Buku itu tidak hanya mengangkat kisah personal, tetapi juga mencoba menganalisis pengalaman hidup melalui sejumlah teori dalam bidang kesehatan masyarakat, psikologi, pengembangan manusia, dan manajemen.
Ja’far juga mengaitkan pengalaman akademiknya dengan pengembangan inovasi yang disebut Biofar SS. Namun, sejumlah klaim mengenai manfaat atau efektivitas inovasi tersebut perlu ditempatkan dalam koridor pembuktian ilmiah, termasuk melalui penelitian, pengujian laboratorium, uji klinis atau evaluasi yang sesuai, serta penilaian dari otoritas kesehatan sebelum dapat dinyatakan sebagai terapi atau pengobatan yang terbukti secara medis.
Menurut Ja’far, kesempatan memperoleh Beasiswa Kapolri menjadi tanggung jawab moral untuk terus mengembangkan kompetensi dan penelitian yang dapat memberikan manfaat sosial.
“Seluruh kompetensi dan wawasan yang saya peroleh selama pendidikan saya arahkan menjadi karya terapan dan inovasi yang teruji secara ilmiah agar dapat diakses masyarakat, khususnya kelompok yang memiliki keterbatasan pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Dalam buku tersebut, Ja’far menggunakan sejumlah pendekatan teoritis, antara lain teori modal sosial dan kapabilitas manusia, teori aksi terencana, teori keadilan kesehatan dan determinan sosial kesehatan. Pada tingkat teori menengah, ia mengulas psikologi perkembangan, teori sistem ekologi, post-traumatic growth, resiliensi, growth mindset, serta Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR).
Pendekatan manajemen seperti Prinsip Pareto 80/20, Matriks Eisenhower, metode RACI, dan Work Breakdown Structure (WBS) juga digunakan untuk menggambarkan proses pengembangan inovasi secara sistematis.
Guru Besar FKM UI, Prof. dr. Adang Bachtiar, M.P.H., D.Sc., menilai buku tersebut memiliki nilai akademik karena berupaya menghubungkan pengalaman hidup penulis dengan teori dan perspektif ilmiah dalam kesehatan masyarakat, inovasi, serta kepemimpinan.
Ia juga menyampaikan pandangan mengenai peluang Ja’far melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral di perguruan tinggi luar negeri. Namun, rekomendasi tersebut merupakan bentuk apresiasi akademik dan peluang pendidikan, bukan berarti Ja’far telah diterima atau mendapatkan kepastian studi di universitas yang dimaksud.
Sementara itu, Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Rosleny Marliani, M.Si., CPP, menyoroti perjalanan hidup Ja’far dari perspektif psikologi perkembangan dan resiliensi. Menurutnya, pengalaman kehilangan orang tua, keterbatasan ekonomi, dan perjuangan membiayai pendidikan dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan ketangguhan seseorang.
Guru Besar FKM USU, Prof. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes., turut memberikan apresiasi terhadap karya tersebut sebagai bagian dari perjalanan akademik Ja’far sekaligus kontribusi bagi almamater.
Apresiasi juga disampaikan perwakilan Kemenpora RI, Dr. Ir. Hendro Wicaksono, M.Sc.Eng. Dalam acara tersebut, Ja’far disebut memperoleh apresiasi sebagai Ikon Pemuda Terdaftar Resmi Kemenpora RI. Sementara itu, buku tersebut disebut masuk sebagai salah satu koleksi referensi di Perpustakaan Nasional RI.
Di tengah perhatian publik menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kisah Ja’far kembali menjadi sorotan. Sejumlah pembaca dari luar negeri juga disebut memberikan respons positif terhadap buku tersebut. Salah satu komentar yang beredar menyatakan ketertarikan untuk memperkenalkan buku itu kepada komunitas pembaca.
Namun, apresiasi terhadap sebuah karya tetap perlu dibedakan dari pengakuan ilmiah secara formal. Status buku sebagai koleksi referensi, respons pembaca, maupun penghargaan dari suatu lembaga tidak dengan sendirinya membuktikan validitas seluruh klaim ilmiah atau efektivitas suatu inovasi kesehatan. Pembuktian tersebut tetap membutuhkan metodologi penelitian yang dapat diverifikasi dan ditelaah secara independen.
Bagi Ja’far, beasiswa yang diterimanya menjadi kesempatan untuk mengembangkan pendidikan sekaligus menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dan institusi Polri atas dukungan pendidikan yang diterimanya.
“Kepercayaan besar yang diberikan kepada saya menjadi amanah untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Ja’far.
Kisah tersebut pada akhirnya bukan semata tentang perjalanan dari desa dengan modal Rp70.000, melainkan tentang pentingnya akses pendidikan, kesempatan bagi generasi muda, ketekunan dalam belajar, serta keharusan memastikan setiap inovasi—terutama yang berkaitan dengan kesehatan—dibangun di atas bukti ilmiah, etika, dan mekanisme pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan.
(Red)













