Radargempita.co.id
Sejarah, – perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak selalu berakhir dengan kisah kemenangan yang sederhana. Di Kalimantan Selatan, perjalanan hidup Ibnu Hadjar menjadi salah satu contoh bagaimana dinamika politik, reorganisasi militer, dan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah pascakemerdekaan dapat mengubah arah perjuangan seseorang.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan, Ibnu Hadjar tercatat bergabung dalam perjuangan mempertahankan Republik di Kalimantan Selatan. Ia menjadi bagian dari ALRI Divisi IV dan terlibat dalam perjuangan gerilya menghadapi pasukan Belanda. Perlawanan berlangsung dalam kondisi sulit dengan medan hutan dan rawa yang menjadi bagian dari kehidupan para pejuang.

Situasi berubah setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada akhir 1949. Pemerintah melakukan reorganisasi dan rasionalisasi angkatan bersenjata sebagai bagian dari penataan militer negara yang baru berdiri. Dalam proses tersebut, tidak seluruh bekas pejuang gerilya dapat dipertahankan dalam struktur militer.
Pada saat yang sama, sejumlah bekas anggota KNIL diintegrasikan ke dalam APRIS melalui proses yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan tersebut menimbulkan kekecewaan di kalangan sebagian bekas pejuang Republik yang merasa jasa dan pengorbanan mereka belum memperoleh penghargaan sebagaimana diharapkan.
Ibnu Hadjar termasuk salah satu tokoh yang kemudian mengambil sikap berseberangan dengan pemerintah. Ia kembali melakukan perlawanan bersenjata dan membentuk Kesatuan Rakjat Jang Tertindas (KRyT). Dalam perkembangannya, gerakan tersebut memiliki keterkaitan dengan jaringan DI/TII di Kalimantan Selatan.
Perubahan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidup Ibnu Hadjar. Sosok yang sebelumnya ikut berjuang mempertahankan Republik kemudian menjadi bagian dari gerakan bersenjata yang berhadapan dengan pemerintah Republik Indonesia.
Perlawanan berlangsung selama beberapa tahun. Pada 1963, Ibnu Hadjar akhirnya menyerahkan diri kepada pemerintah. Namun, proses tersebut tidak mengakhiri persoalan hukumnya. Ia kemudian ditangkap, diadili, dan pada 1964 dijatuhi hukuman mati.
Pelajaran dari Sejarah Ibnu Hadjar
Kisah Ibnu Hadjar memperlihatkan bahwa proklamasi kemerdekaan pada 1945 bukanlah akhir dari seluruh persoalan bangsa. Setelah menghadapi kolonialisme, Indonesia masih harus menyelesaikan berbagai persoalan internal, mulai dari integrasi bekas pejuang, reorganisasi angkatan bersenjata, hubungan pusat dan daerah, hingga konflik politik dan keamanan.
Karena itu, perjalanan Ibnu Hadjar penting dipahami secara utuh dan berdasarkan konteks zamannya. Ia pernah menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan Republik, tetapi kemudian mengambil jalan perlawanan terhadap pemerintah Republik.
Menempatkannya hanya dalam satu label—semata-mata sebagai “pahlawan” atau “pemberontak”—berisiko menghilangkan kompleksitas sejarah yang melatarbelakangi perubahan sikapnya.
Sejarah Ibnu Hadjar memberikan pelajaran bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berhenti ketika penjajahan berakhir. Tantangan berikutnya adalah bagaimana negara mengelola perbedaan, memberikan ruang integrasi bagi para pejuang, serta menyelesaikan ketidakpuasan melalui mekanisme politik dan hukum agar konflik tidak berkembang menjadi kekerasan.
Memahami sejarah secara utuh bukan berarti membenarkan setiap tindakan tokohnya, melainkan menempatkan setiap peristiwa dalam konteks agar generasi berikutnya dapat mengambil pelajaran secara lebih objektif.
(Red/Perpusnas)













