Menu

Mode Gelap
Sinergitas Polres Pelabuhan Belawan & Pemkab Deli Serdang Dukung Ketahanan Pangan

Berita

Hari Harimau Sedunia dan Masa Depan Harimau Sumatra

badge-check


					Hari Harimau Sedunia dan Masa Depan Harimau Sumatra Perbesar

Radargempita.co.id

Ragam, – Peringatan Hari Harimau Sedunia setiap 29 Juli lalu menjadi momentum penting untuk meninjau kembali kondisi harimau di alam liar yang terus menghadapi tekanan serius. Hari peringatan ini dicanangkan pada 2010 sebagai respons atas penurunan drastis populasi harimau dunia yang diperkirakan telah menyusut sekitar 97 persen dibandingkan awal abad ke-20.

Di Indonesia, harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan setelah harimau jawa dan harimau bali dinyatakan punah. Statusnya yang sangat terancam punah menempatkan konservasi harimau sumatra sebagai isu strategis, tidak hanya bagi keanekaragaman hayati nasional, tetapi juga bagi keseimbangan ekosistem hutan.

Mitos dan fakta tentang harimau

Berbagai kesalahpahaman masih melekat pada persepsi masyarakat mengenai harimau. Erwin Wilianto dari Sundaland Cat Working Group menjelaskan bahwa harimau sumatra pada dasarnya merupakan satwa pemalu, soliter, dan cenderung menghindari manusia. Manusia bukan mangsa alaminya.

Anggapan bahwa warna oranye harimau mudah terlihat di hutan juga tidak sepenuhnya tepat. Satwa mangsa seperti rusa dan kijang memiliki keterbatasan penglihatan warna sehingga corak tubuh harimau justru berfungsi sebagai kamuflase di antara vegetasi.

Klaim bahwa harimau mampu mencium bau mangsa dari jarak puluhan kilometer juga dinilai berlebihan. Keunggulan penciumannya terletak pada sensitivitas reseptor bau, bukan pada jangkauan yang luar biasa jauh. Sementara itu, kumis harimau berfungsi sebagai sensor untuk membantu pergerakan di ruang sempit dan vegetasi rapat.

Pemahaman ilmiah mengenai perilaku dan biologi harimau menjadi penting agar masyarakat tidak memandang satwa ini semata-mata sebagai ancaman.

Tekanan habitat dan ancaman kepunahan

Meski memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, populasi harimau sumatra terus menghadapi tekanan berat. Erwin Wilianto memperkirakan populasi inti di alam liar kini tidak lebih dari sekitar 300 ekor.

Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Ani Mardiastuti, dalam IPB Podcast Maret 2026 menyebut penurunan populasi dipengaruhi deforestasi, fragmentasi habitat, serta berkurangnya satwa mangsa seperti rusa. Pembukaan hutan untuk berbagai kepentingan pembangunan mempersempit ruang jelajah dan mengurangi ketersediaan sumber pakan.

Sebagai predator puncak (apex predator), harimau berperan penting dalam mengendalikan populasi herbivora. Hilangnya predator puncak dapat memicu ketidakseimbangan ekosistem dan kerusakan vegetasi hutan dalam jangka panjang.

Konflik manusia dan harimau

Penyempitan habitat mendorong harimau semakin sering memasuki area yang berdekatan dengan permukiman. Di Riau, sepanjang pertengahan 2026, sejumlah konflik manusia-harimau dilaporkan terjadi.

Kemunculan harimau di Desa Sungai Danai, Kabupaten Indragiri Hilir, dilaporkan meresahkan warga setelah satwa tersebut memangsa ternak sapi dan mendekati kawasan permukiman. Aktivitas sekolah sempat dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan.

Kasus lebih tragis terjadi di Kabupaten Pelalawan pada awal Juli 2026, ketika dua serangan harimau menewaskan seorang anak dan seorang pekerja di kawasan hutan tanaman industri. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menyebut keberadaan ternak dan akses terbuka di sekitar lokasi kerja menjadi faktor yang menarik harimau mendekat.

Prof. Ani Mardiastuti menilai konflik semacam ini tidak dapat disederhanakan sebagai bentuk penolakan masyarakat terhadap konservasi. Faktor ekonomi, keamanan, dan keterbatasan ruang hidup merupakan bagian dari persoalan yang harus ditangani secara komprehensif.

Belajar hidup berdampingan

India kerap dijadikan contoh pengelolaan konservasi harimau berbasis koeksistensi. Negara tersebut menampung sekitar 3.700 harimau liar atau sekitar 75 persen populasi harimau dunia. Keberhasilan peningkatan populasi didukung oleh perlindungan habitat, kompensasi cepat bagi peternak yang kehilangan ternak, pengembangan ekowisata, pendidikan konservasi, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pemantauan satwa.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konservasi predator besar tidak selalu berarti memisahkan manusia dan satwa secara mutlak. Pengelolaan ruang hidup bersama, dukungan ekonomi, penegakan regulasi, dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan publik terhadap upaya konservasi.

Momentum refleksi

Hari Harimau Sedunia seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan harimau sumatra sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga hutan, memulihkan habitat, serta mengelola konflik secara adil dan berbasis ilmu pengetahuan.

Menyelamatkan harimau sumatra berarti menjaga keseimbangan hutan tropis Indonesia. Jika predator puncak ini hilang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satwa liar, tetapi juga manusia yang bergantung pada keberlanjutan ekosistem hutan.

 

(Redaksi)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemuda Bergerak, Desa Bergema! Karang Taruna Buntu Bedimbar Tunjukkan Peran Besar di Gebyar AKBAR

30 Agustus 2026 - 23:05 WIB

Sambut HUT ke-81 RI, BRI BO Rawamangun Semarakkan Kantor dengan Dekorasi Nuansa Merah Putih

30 Agustus 2026 - 22:51 WIB

Area Otista Raih Juara 2 Sportartcular BRI Region 6 Cabang Voli

30 Agustus 2026 - 22:48 WIB

UMKM Binaan BRI Region 6 Antusias Ramaikan Festival Semarak Merah Putih di Pasar Malaka Rorotan

30 Agustus 2026 - 22:44 WIB

BRI BO Otista Raih Juara 1 BRILiaN DekorAksi 2026 Tingkat Region 6

30 Agustus 2026 - 22:41 WIB

Trending di Berita

Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan