Subuh Berdarah 1 Oktober 1965?
Sejarah,- radargempitaco.id || Ketika Pangdam Jaya Umar Wirahadikusumah Bergerak Amankan Jakarta. Subuh yang seharusnya tenang pada 1 Oktober 1965 berubah menjadi pagi penuh kecemasan di ibu kota. Saat sebagian warga Jakarta masih terlelap, laporan darurat datang kepada Panglima Kodam V/Jaya, Umar Wirahadikusumah. “Saya menerima kabar dari Komisaris Polisi Hamdan, ajudan Abdul Haris Nasution, tentang insiden penembakan di kediaman Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta,” kata Panglima Kodam V/Jaya, Umar Wirahadikusumah, dilansir perpusnas.go.id, Rabu, (18/03).

Peristiwa itu terjadi di tengah rangkaian drama kelam yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September, dalam laporan yang diterima, “disebutkan bahwa penembakan di rumah Nasution menimbulkan korban diantaranya Putri sang jenderal, Ade Irma Suryani Nasution, mengalami luka berat. Sementara itu, ajudan Nasution, Pierre Tendean, dilaporkan hilang setelah peristiwa tersebut,” terang Pangdam
” Korban lain juga berjatuhan. Seorang anggota polisi pengawal rumah Wakil Perdana Menteri Johannes Leimena, yaitu Karel Satsuit Tubun, ditemukan gugur setelah terlibat dalam kontak senjata dengan para penyerang., ” sambung Pangdam.
Diketahui, usai menunaikan salat Subuh, Mayjen Umar segera bergerak. Bersama Kapten Sulasdi yang merupakan petugas piket Garnisun Ibu Kota, ia menuju tempat kejadian perkara di Jalan Teuku Umar No. 40 dengan menggunakan jip militer GAZ. Rombongan itu dikawal ketat oleh satu unit panser Ferret serta satu truk pasukan bersenjata lengkap. Saat tiba di lokasi, situasi telah dijaga oleh satu regu pasukan KKO (Korps Komando Operasi—cikal bakal Marinir TNI AL) dan sebuah panser yang lebih dahulu datang memberikan pengamanan. Pasukan tersebut bergerak cepat setelah menerima permintaan bantuan dari Ny. Johanna Nasution, yang menghubungi markas KKO terdekat.
Melihat situasi yang berkembang cepat dan penuh ketidakpastian, Mayjen Umar mengambil langkah tegas. “Pada hari yang sama, ia memerintahkan Garnisun Ibu Kota untuk menutup seluruh akses keluar-masuk Jakarta. Sebagai penguasa perang daerah, ia menyatakan wilayah Jakarta Raya berada dalam keadaan darurat keamanan,” tegas Pangdam.
“Jam malam pun diberlakukan. Langkah itu diambil untuk mengendalikan situasi dan mencegah meluasnya kekacauan di ibu kota pada hari yang kemudian tercatat sebagai salah satu bab paling genting dalam sejarah kelam politik Indonesia,” pungkas Pangdam.
(Nadillah F)









