RadarGempita.co.id
Sejarah, – Salah satu catatan sejarah “Otentik” sebagai bukti adanya “Invisible Hand“ atau lebih dikenal dengan cengkeraman terselubung Amerika Serikat terhadap kepemimpinan Presiden Soekarno. Minggu pagi di Ambon tepatnya 18 Mei 1958, Kapten Udara Ignatius Dewanto dengan pesawat Mustang P-15 memuntahkan rentetan peluru menghantam mesin Pesawat Poppe yang mengharuskannya terpaksa terjun payung menyelamatkan diri. Namun, Allen Poppe mendarat tragis dengan kaki patah karena menghantam bagian ekor pesawatnya sendiri, dan tersangkut diatas pohon kelapa.

Tertangkapnya ALLEN LAWRENCE POPPE, (20 Oktober 1928 – 4 April 2020), adalah seorang pilot militer dan paramiliter Amerika Serikat. Ia menjadi sorotan internasional sebagai subjek sengketa diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia setelah pesawat B-26 INVANDER yang ia terbangkan dalam operasi rahasia Badan Inteljen Pusat (CIA) ditembak jatuh di atas Ambon pada 18 Mei 1958, selama ” Selama Krisis Indonesia”.
Awalnya Amerika melalui Menteri Luar Negeri, John Foster Dulles, tidak mengakui terlibat dengan aktivitas Allan Poppe. Tetapi pihak Tentara Indonesia menemukan bukti Kartu Anggo CIA atas nama Poppe, identitas militer Amerika / kartu anggota Club Perwira Amerika , dan buku log penerbangan melakukan misi tempur di wilayah Indonesia.
Dokumen itu jadi bukti bahwa Poppe adalah seorang tentara Amerika yang bertugas sebagai ujung tombak dalam sebuah operasi dengan sandi “OPERATION HAIK”.
Berdasarkan dokumen rahasia CIA yang kini telah dideklasifikasi seperti yang tercatat dalam seri Foreign Relations of the United States), Operasi Haik disetujui pada akhir 1957 sebagai operasi militer spesifik memberikan dukungan udara, senjata, dan logistik kepada pemberontakan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi.
CIA memandang Soekarno sebagai ancaman karena sikap Non-Bloknya. Strategi mereka adalah “destabilisasi terkendali“. Jika Soekarno tidak bisa digulingkan, maka Indonesia harus dipecah. Dengan mendukung pemberontakan di daerah kaya sumber daya seperti Sumatera dan Sulawesi.
Amerika dalam tindakan ini kerap memakai narasi sebagai gerakan anti-komunis atau Perang Dingin. Greg Poulgrain, peneliti sejarah, menyebut Allen Dulles, Direktur CIA saat itu, ikut terlibat dalam konspirasi ini.

Foto: Istimewa (Persidangan Pope di Jakarta Desember 1959)
Sebelum memimpin intelijen, Dulles adalah pengacara korporat yang sangat memahami peta kekayaan alam dunia. Ada indikasi kuat bahwa Operasi Haik dan dukungan terhadap Permesta berkaitan erat dengan upaya penguasaan sumber daya mineral di Sumatera yaitu instalasi minyak Caltex. Bukan cuma itu, ada hal yang lebih dari wilayah Timur Indonesia terdapat “Big secret” penemuan cadangan emas dan tembaga raksasa di Ertsberg, Papua (konsesi tambang Freeport-red).
Allen Pope kemudian dihadapkan ke Pengadilan Militer dan disana sempat berdebat dengan para saksi yang dihadirkan oleh Oditur Militer. Pope kemudian dijatuhi hukuman mati tetapi naik banding sedangkan Harry Rantung diganjar hukuman 15 tahun. Kabarnya ia ditahan di sebuah villa di Kaliurang dekat Yogyakarta dan penerbang ini sempat mengajari para penjaganya dengan teknik bela diri Judo.
Konspirasi ini melibatkan pengusaha besar Amerika yang ingin memastikan bahwa kekayaan alam Nusantara tetap berada dalam orbit kapitalisme Barat, bukan dinasionalisasi oleh kebijakan radikal Soekarno.
Bagi Dulles beserta kroninya, Soekarno adalah ancaman besar bagi eksploitasi mineral di bumi Nusantara. Peristiwa 1958 ini membuktikan bahwa teori konspirasi tentang intervensi asing di Indonesia bukanlah sekadar khayalan, melainkan fakta sejarah yang tertulis dalam dokumen deklasifikasi CIA.











